Rekan Sepanggilan, Menulislah!

Pengunjung yang terhormat, para saksi Kristus & para pelayan Tuhan, ini adalah blog mutiara DOA, SAAT TEDUH dan MEDITASI Kristen (kecuali sisipan-sisipan khususnya). Sebuah Kedai Doa, Warung SaTe, atau Kantin Yoga, terserah Anda menyebutnya. Kalo saya, ini Cafe Shalom:-) Lebih dari itu, blog ini adalah ajakan untuk menulis. Tulislah apa saja, selembar sehari, di diary atau jurnal pribadi. Don't worry, bahan-bahannya akan Tuhan kirim tiap hari, lewat berbagai macam situasi, Anda hanya tinggal mencatatnya dengan setia & sepenuh hati. Apapun genre-nya, semua bentuk tulisan itu bagus. Semua memastikan agar kita tak mudah lupa berkat dan pesan-Nya untuk jangka waktu sangat lama. Dan sudah barang tentu, tulisan Anda bisa jadi berkat buat sesama, asupan sehat bagi keluarga besar gereja-Nya. Selamat mencoba. Mulailah hari ini!

Selasa, 12 Februari 2013

Menaklukkan Mammon

Sisipan, Refleksi:

Si Mamon itu memang amat digdaya. Pesonanya menaklukkan siapa saja; tua-muda, pria-wanita, agama apa saja, semua ras manusia! Ia kaya pengaruh, ia limpah kuasa. Begitu tipis bedanya, entah kita sangat membutuhkannya atau sangat menyembahnya. Tak heran Allah mencemburuinya, serius meminta jawab kita: “Pilih AKU atau dia?!” Tapi hal paling berbahaya tentang si Mamon ini adalah: tak ada kata puas memilikinya. Ia membuat orang tak sudi berbagi rata. Ia membuat orang nekat mengambil resiko kehilangan segalanya dengan mencurinya, merampoknya, mengkorupsinya. Maka wajar jika kita pesimis bisa mengalahkannya. Memang tak ada yang bisa, tak ada caranya!

Tapi benarkah demikian, kawan? Tidak! Karena saat kuliah aku punya cara dan  pernah bisa mengalahkan kuasanya. Berempat kami, kebetulan sekelas, satu kost-kost-an, sama-sama kristen. Uang bulanan dari orang tua tergolong kecil, namun kami kerap saling mentraktir. Stok mie-instan di kamarku seolah milik mereka juga, dan bila milikku habis, aku mencarinya ke kamar mereka. Salah satu dari kami kerap dikirimi paket makanan oleh orang tuanya, bersama-sama kami menghabiskannya. Jika ada diktat kuliah yang mahal, kami urunan, cukup beli satu saja untuk digunakan bersama.

Dengan pemilik kost terbangun hubungan yang sama. Di jumpa pertama mereka tegas: “Tidak boleh ada salib-gambar kristen- lagu kristen di kamar!” Seiring waktu semua berubah. Kami biasakan tak hanya membersihkan kamar, tapi juga ruang tamu dan halaman rumah. Ketika anak mereka opnam, bergiliran kami menjaganya. Selama rumah direnovasi, kami jadi tukang, membantu sebisanya. Apa yang terjadi? Alkitab kami tergeletak di luar kamar atau lagu kristen terdengar nyaring dari kamar tak jadi masalah. Wesel dari orang tua tak kunjung tiba, bayar kost telat sedikit, telat lama, tak pernah ditagih. Bahkan satu dua kali uang dari kami dikembalikan oleh mereka!

Apa penjelasannya? Bukan, itu bukan hubungan timbal balik biasa. Itu terjadi karena lambat laun tumbuh kasih diantara kami semua, lambat laun kami bisa menganggap satu sama lain sebagai keluarga. Dalam keluarga, hubungan timbal balik terjadi bukan karena kepentingan atau kewajiban. Itu terjadi begitu saja, secara alami belaka. Saling berbagi, menganggap sesuatu sebagai milik bersama itu menjadi naluri, menjadi pola pikir dan gaya hidup bersama! Dalam kondisi dan situasi seperti inilah sesungguhnya kami telah menaklukkan si Mamon. Ya, karena dalam relasi kasih di antara kami dan antara kami dengan pemilik kost itu uang menjadi hal yang tak terlalu utama, sehingga bisa dibilang si Mamon kehilangan relevansinya, kehilangan kuasanya!

Belakangan baru kusadari bahwa cara kami mengalahkan si Mamon itu sudah ditunjukkan oleh kitab suci. Itu adalah sesuatu yang Yesus maksudkan ketika menantang seorang muda kaya menjual seluruh hartanya dan mengikut Yesus (Markus 10:17-27). Itu juga poin yang Yesus tekankan saat menjawab pertanyaan para murid: “Kami telah menggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau. (Apa yang kami dapat?)” (Markus 10:28-31). Itu juga gaya hidup gereja mula-mula di mana jemaat berbagi segala sesuatu karena merasa apa yang mereka miliki adalah milik bersama (Kis 2:44-45). Ini terkait dengan sistem ekonomi Allah, dengan natur ekonomi dalam kerajaan Allah.

Seperti ini runtutannya: kelahiran baru kita (harusnya) berdampak pada cara pandang kita terhadap sesama, membuat kita memandang orang lain sebagai saudara dari keluarga yang sama. Dalam sebuah keluarga, akan merupakan sebuah skandal bila sang kakak berlimpah harta sementara adiknya miskin papa. Sebuah aib yang dikutuk bersama bila sang adik berhasrat menguasai sebanyak mungkin harta keluarga, karena otomatis itu memperkecil porsi yang menjadi hak kakaknya. Dalam keluarga baru Allah yang menembus batas biologis bahkan batas bangsa-bangsa ini distribusi-ulang kepemilikan (saling berbagi) menjadi gaya hidup semua anggotanya. Yang ditumbuhkan di dalamnya adalah sikap inter-dependent, saling bergantung, saling mengandalkan, bukan sikap independent yang egois dan individualis. Dalam konteks hidup bersama dalam dimensi ekonomi Allah seperti ini mamon tetap memiliki fungsinya, tapi ia tak akan menjadi si Mamon yang digdaya,  dan tak mudah kita jatuh menyembahnya, melainkan mamon sebatas menjadi pelayan kita. Indah bukan? Dan tak terasa mustahil lagi, bukan?

Jadi, kalau aku saat menjadi mahasiswa pernah bisa kalahkan si Mamon, kita semuapun  pasti bisa, kawan. Kebangkitan Kristus menjadi garansi,  bahwa si Mamon bisa kita buat miskin pengaruhnya, bisa kita buat sekarat kuasanya. Dengan kasih kita pada sesama anak bangsa, dengan natur berbagi yang Roh Kudus berdayakan dalam dan melalui hidup kita, kita bisa kalahkan si Mamon. Apalagi di tengah keluarga besar bangsa kita yang sampai hari ini pembagian kue kesejahteraan hasil pembangunan belum dinikmati semua kalang secara merata. Ayo mahasiswa, ayo alumni, kita bergerak bersama, menjadi solusi menular bagi parahnya budaya korup bangsa!

Salam Optimisme Perubahan Indonesia!

"Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
(Kis 2:44-45)

"When we truly discover love, capitalism will not be possible and Marxism will not be necessary."
(Will O'Brien)


Jakarta, Oktober 2012
"pernah dimuat di majalah Dia edisi 2/2012"

Kamis, 22 November 2012

Learned-Helplessness

Selingan: perspektif kerja/hidup

Sebuah riset tentang ketidak-berdayaan yang terbentuk (learned-helplessness), dari buku Street Children: A Guide to Effective Ministry by Phyllis Kilbourn):

Seekor anjing ditempatkan dalam sebuah kerangkeng kecil yang seluruhnya terbuat dari besi.  Lalu sebuah bel dibunyikan bersamaan dengan listrik dialirkan ke besi kerangkeng untuk mengagetkan si anjing. Sang anjing sontak menggonggong dan bergerak tak terkendali, berusaha keluar dari kerangkeng, namun justru kesakitan dan stress karena aliran listrik. Setelah beberapa kali prosedur ini dilakukan, peneliti menemukan sebuah pola baru:  sekarang jika bel dibunyikan, si anjing memilih untuk meringkuk atau merebahkan diri. Anjing itu telah belajar tentang ketidak-berdayaan. Ia yakin tak ada yang bisa dilakukannya selain menerima / menjalani saja rasa sakit dari aliran listrik itu. Bahkan ketika atap kerangkeng kecil itu dibuka, lalu bel dibunyikan dan listrik dialirkan, anjing itu bukannya melompat keluar kerangkeng menuju kemerdekaannya dan ketenangan hidupnya, ia justru tetap memilih meringkuk dan menerima rasa sakit tersengat listrik itu.

Kita kerap melihat sejenis learned-helplessness ini dialami kawan-kawan kita, yang sekian lama ditekan dan ditindas: dipaksa tunduk pada pihak yang berkuasa, dipaksa bekerja secara tidak adil dan digaji kecil, dipaksa terlibat dalam kegiatan yang tidak manusiawi, dipaksa hidup di jalanan, di daerah kumuh, di lokasi prostitusi dan di kamp pengungsian (tambahan saya: atau di gereja/lembaga pelayanan yang cenderung gemar menggunakan slogan rohani yang manipulatif-eksploitatif). Bahkan ketika diberi kesempatan maupun keberanian/kekuatan untuk membuat keputusan keluar dari kondisi-kondisi seperti itu,  bahkan diberi kekuatan untuk melawan para penindas mereka, kebanyakan dari mereka justru tetap memilih tunduk terhadap rasa sakit yang ditimpakan atas diri mereka.

Inilah fakta yang terjadi dalam dunia di mana uang dan kekuasaan dianggap segalanya, diberhalakan sedemikian rupa. Wajar bila hasilnya adalah: ketundukan pasif, kepasrahan negatif pada pihak-pihak yang memegang uang dan/ kekuasaan. Itulah yang disebut ketidak-berdayaan yang terlatih (learned-helplessness), sikap yang meyakini: “Tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah saja.” Dan itu bukan ketundukan yang dimaksud alkitab. Itu justru sikap menolak tanggung-jawab atas hidup kita sendiri, karena membiarkan pihak lain atau situasi yang memutuskan apa yang kita alami dan kita rasakan. Lebih buruk lagi, itu bisa jadi sikap abai terhadap nilai keadilan dan kebenaran Tuhan, sikap yang menciderai shalom Tuhan. Sesungguhnya ada banyak yang bisa dilakukan dalam situasi-kondisi atau tempat seperti itu. Ya, banyak cara untuk “melawan,” tanpa perlu melibatkan kekerasan atau kejahatan.

So, mau bertahan di tempat kerja atau situasi atau kondisi-kondisi semacam itu? Boleh saja, asal pastikan bahwa Anda tidak sedang menghayati learned-helplessness, melainkan sedang taat pada panggilan Tuhan! Dan pastikan Anda yakin tidak salah membedakannyaJ  GBU all.

Jakarta, 22 Nopember 2012
Idenya kudapat setelah membaca berita demo buruh besar-besaran hari ini

Rabu, 31 Oktober 2012

Moving without Running-away

Do not quit easily. Postpone it as long as possible... :

# untill you’re convinced that it’s not an avoidance from bad persons or situations, but an unavoidable way to be a better person or to fulfil a greater vision;

# untill you’re sure what follows is a moving ahead, not a running away!

Kisah Rasul 16:6-10
Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.

Jakarta, medio Okt 2012

After the decision not to stay