Rekan Sepanggilan, Menulislah!

Pengunjung yang terhormat, para saksi Kristus & para pelayan Tuhan, ini adalah blog mutiara DOA, SAAT TEDUH dan MEDITASI Kristen (kecuali sisipan-sisipan khususnya). Sebuah Kedai Doa, Warung SaTe, atau Kantin Yoga, terserah Anda menyebutnya. Kalo saya, ini Cafe Shalom:-) Lebih dari itu, blog ini adalah ajakan untuk menulis. Tulislah apa saja, selembar sehari, di diary atau jurnal pribadi. Don't worry, bahan-bahannya akan Tuhan kirim tiap hari, lewat berbagai macam situasi, Anda hanya tinggal mencatatnya dengan setia & sepenuh hati. Apapun genre-nya, semua bentuk tulisan itu bagus. Semua memastikan agar kita tak mudah lupa berkat dan pesan-Nya untuk jangka waktu sangat lama. Dan sudah barang tentu, tulisan Anda bisa jadi berkat buat sesama, asupan sehat bagi keluarga besar gereja-Nya. Selamat mencoba. Mulailah hari ini!

Tampilkan postingan dengan label l. Oase Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label l. Oase Jakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juni 2012

Jangan Ngebut; di Jalan Maupun di Karir

Aku jatuh kemarin di tengah jalan, saat menikung lumayan pelan. Itu karena sudah gundul ban depan. Kaca spion pecah, celana robek ringan. Untungnya rombongan kendaraan di belakang sedang kurangi kecepatan, jelang perempatan, sehingga pepatah ini tak kualami: “Sudah jatuh, tertimpa kendaraan pula.” Kusyukuri nyawa yang masih diperpanjang Tuhan. Kutimba pelajaran: tidak ngebut di jalan itu bukan hanya agar celaka kita tak fatal, namun juga agar ketika saudara kita celaka, kita tak membuat celakanya makin fatal. O itu sebuah sumbangsih mulia dan besar, yakni membuat diri kita dan orang lain bisa tiba di rumah dengan selamat, sesuai doa dan harap keluarga tersayang.

Pikiranku terus melayang tuntasi sisa perjalanan pulang: andai prinsip ini juga subur di dunia kerja yang sarat persaingan, di mana orang berniat meniti karir dengan jujur dan giat, bukannya asyik ngebut bahkan melanggar segala etika profesi demi tiba di posisi tertinggi perusahaan atau di jabatan pemerintahan sesuai jadual yang diangankan, pasti laju karir setiap orang akan aman dan lancar, niscaya meratalah kesejahteraan, sesuai doa dan harap yang tiap keluarga panjatkan. Dan kalaupun terjadi ketidak-berungtungan nasib seorang rekan, etos kerja positif kita tak akan membuat nasib buruknya lebih fatal. Ah, smoga makin terjadi kondisi yang demikian; demi makin mulianya peradaban bangsa, dan terutama, demi pulihnya kemanusiaan kita, sesuai kemuliaan ciptaan mula-mula.


Pengkotbah 5:19
Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah

Ruth 2:15-16 
Setelah ia [Rut] bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: "Dari antara berkas-berkas itupun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia." 


Tangerang, 26 Mei 2012

*Fakta: banyak orang menjadi miskin bukan karena malas, tapi karena "pemiskinan", yakni oleh kondisi-kondisi sosial yang membuat mereka tak mendapat kesempatan untuk maju dan berkembang dalam usaha-pekerjaan.

Rabu, 30 Mei 2012

Simply Determined


Tiba di kantor dengan selamat,
lengan jaket betis celana masih terlipat,
seduh kopi mencari hangat,
hari ini terasa ringan atau berat, moga tetep jadi berkat.
Selamat bekerja, kawan!

Jakarta, 12 Maret 2012
sejak subuh hujan lebat

Gugur, Satu Lagi...


Satu lagi gugur sore tadi. Terbujur di aspal, tak jauh di depanku; dengan tas punggung dan perlengkapan kerja, sama sepertiku. Motornya terserak di bawah moncong Avansa itu. Belum ada polisi, hanya kemacetan jadi saksi kepergian pria itu. Kudesahkan: “Selamat jalan, kawan. Setidaknya esok kau tak lagi berpanas dan kehujanan di jalanan. Smoga keluarga mengenangmu sebagai pahlawan.”

Entah kenapa, melihatnya terkapar di situ kutangkap gambaran tentang tuntasnya sebuah pengabdian. Membuatku teringat pengkotbah yang mati di mimbar, tentara yang gugur di medan perang, peniliti yang mati di laboratorium atau guru yang mati di kelas. Kulanjutkan laju motorku, pulang dengan idealisme yang diteguhkan: bukan soal cara atau tempat kematianku yang memberi makna, tapi harus kupastikan diriku sedang dalam posisi mengemban tugas, menghidupi peran, sebagai anak bangsa..., sebagai anak Tuhan!

Yesus:
Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.”
(Yohanes 17:4)

Jakarta-Tangerang, 10 Mei 2012.

Sepotong Dunia Pagiku

04.50
Alarm bangunkanku, doa pasrahkan hariku
Mandi air hangat, 05.20 siap berangkat
10 menit ritual pandangi anak istri yang masih lelap

Menata tempat mereka di hatiku: bahwa mereka bukan milik, melainkan amanat; hanya titipan, dipercayakan untuk dikasihi selama masih diberi waktu; bahwa hanya Tuhanlah milikku dan Pemilik mereka. Demikian aku latih kesiapanku: kapanpun mereka bisa lepas dari pelukku.
Serahkan hari mereka, hayati lagi hadir mereka di hidupku:
Merekalah korban terdekat, yang turut tanggung akibat, bila hari ini aku menyerah, pada godaan untuk berhenti sejenak; sejenak berhenti menjaga kekudusan & kejujuran, sejenak abaikan integritas. Itu kekuatan ekstra, bekal tambahan selain Sabda Tuhan, hadapi godaan di tempat kerja.

5.30
Menyapa jalanan, kaca helm terbuka, agar pandangan jelas, karena halimun pagi masih lekat. Udara kotor sudah pekat, seraya rekan-rekan pengendara dan kendaraan mendekat rapat.
Dalam waspada naikkan doa rutin: “Smoga yang ahli tak henti teliti dan temukan cara atasi polusi, bahkan atasi pemanasan global dan kerusakan ekologi di pusat-pusat urban.”

06.00
Titipkan motor di terminal, busway TransJakarta jadi tempat kencan: temu mesraku dengan Sang Khalik, sambil berdiri atau duduk, menyimak sabda-Nya sepanjang jalan, desahkan doa Bapa Kami; Bapaku dan Bapa pak sopir serta Bapa semua penumpang; Mohonkan KerajaanNya datang di bumi Jakarta hari ini, khususnya dalam hidupku dan hidup mereka, melalui karyaku dan karya mereka, di tiap tempat ke manapun Tuhan utus kami menjemput rejeki hari ini.

07.00
Tiba di kantor, siap belajar di ruang kelas-Nya Tuhan, laboratorium kehidupan. Siap berbagi hidup dengan rekan kantor yang Tuhan anugrahkan, saling asah, saling menajamkan. Mohon Dia sanggupkan, pancarkan citra-Nya, hari demi hari, mingu lepas minggu, hingga akhir bulan, menuai gajianJ
****
Tangerang-Jakarta, medio Januari 2012

Fatamorgana Pagi

Pukul 06.30, rekor terpagi tibaku di jantung ibu besar ini.
Sepoi bayu menjemput, ciumi pipi sekeluar busway,
basuhi wajah, mandikan sekujur tubuh sepanjang titian halte.
Tenggelamkan diri, kureguk udara sejuk, sebrangi lalu lintas sepi.
jejak panas belum terasa di kulit, tak jua di langit

Sejenak, serasa di rumah masa laluku, dekat sawah
tatkala bersama kawan lintasi pematang, usai sekolah
mandi di kali, baku percik air, adu selam & tangkap ikan
Semilirnya hembusi angan, lambungkan cita-cita kami setinggi awan
Hamparan hijau itu masih subur di kenangan, merindu diangan.
Lambai daun pisang & bau tanah itu selalu memanggil pulang.

Sedetik kesadaran entasku dari oase semu ini.
Desau sejuk yang kuteguk nikmat ini tetaplah polusi
Lengang trotoar dan aspal ini segera hingar dan sesak di hitungan menit,
hawa kompetisi kan segera aliri hidung, kipasi telinga dan hati
Moment ramah tamah ini siap menguap lenyap setampilnya matahari.
Jadi arena gladiator ekonomi, jadi gelanggang matador hati nurani:
Killed or to be killed hari ini? No!
Kupilih: blessed and to bless!

Ya, di gurun fatamorgananya terik siang hari, kawan.
Di sini lebih awal, lebih rajin, pagi-pagi sekali.

Jakarta, Jl Gajah Mada, arah Kota,
Pertengahan Des, 2011- Selasa Pagi

Oksigen Sorga

Dengan pekatnya asap polusi dosa yang keluar dari knalpot semua komponen masyarakat --termasuk dari knalpot hidup kita sendiri--, maka beribadah (devosi pribadi maupun kolektif di gereja) itu bukan sekedar seperti memasang masker tutupi mulut & hidung kita, melainkan tindakan menghirup oksigen murni dari sorga; tindakan cerdas yang segarkan vitalitas rohani dan kewarasan nurani kita selama bekerja-berkarya-berkiprah-bersumbangsih di dalam dan untuk dunia Ciptaan-Nya. 

Ini dunia Bapa, slalu kuingatlah
Kuasa dosa tak berjaya, hanya Ia berkuasa
Ini dunia Bapa, kasihNya besarlah
Dan semua yang bernafas, nyatakan hadirNya
(This is my Father’s World, bait 2 & 3)

Doa artinya merenungkan fakta-fakta kehidupan dari sudut pandang yang tertinggi   
-Ralph Waldo Emerson-

OTW to Tangerang, sore 11 Jan ‘12

Ketika Babak Hidup Melambat

Di Jakarta atau kota besar lainnya ada penggal-penggal jalan titik kemacetan;
Itu seperti 200 meter sebelum dan sesudah terminal, 100 meter sekitar pertigaan tempat angkot mangkal cari penumpang, 100 meter sebelum pintu tol, atau sepanjang rute di bawah jalan layang penuh orang jualan di trotoar.

Itulah saat-saat laju kendaraan kita terpaksa melambat; sekaligus itu saat-saat kita tergoda untuk marah atau sekedar kesal, merasa dirugikan, oleh panas knalpot kendaraan yang berbaris rapat, merasa waktu berharga sia-sia terbuang, merasa dihambat sampai ke tujuan.

Jika hidupmu sedang terasa demikian, kawan,
Ijinkan aku barbagi pandangan, sekedar mengingatkan; bahwa beberapa jengkal di depan, laju kehidupanmu akan kembali lancar. Sesaat saja ruang gerakmu terasa sesak dan telingamu sarat klakson menyalak, sesudah itu ritme hidup akan kembali normal.

Jadi lebih baik manfaatkan moment-moment melambat itu, kawan;
Latih kesabaran, jinakkan bakat ketergesaan, bahkan jadikan ia goa doamu. Desahkan doa-doa tentang banyak hal, dari nasib buruh hingga berbagai konflik horisontal, terutama tentang kemacetan moral dan polusi nurani  para pemimpin bangsamu itu.
Kuyakin sorga terharu, Sang Khalik tergerak curahkan rahmat, melihat titik kemacetan penuh udara kemarahan itu jadi penuh wangi dupa doa syafaat
Niscaya di tiap moment hidup yang memaksa melambat, kamu selalu siap; bukan dengan hati pasrah, melainkan dengan kreatifitas mendulang baragam manfaat, sehingga di masa-masa penat, hidupmu tetap jadi berkat.

Jakarta, 19 Feb 2012

Riders to Work

Saling menyalib tapi bukan balapan
Saling mendahului namun bukan perlombaan
Bukan semut meski berbaris merayap padat
Bukan saingan, melainkan rekan seperjuangan

Moga Tuhan terus kendarai hati kami
Gar tak terserempet serakah
atau tergelincir iri hati
Moga Tuhan maskeri hati kami
Gar tak hirup polusi udara kompetisi,
atau tergoda bau gurih korupsi
supaya jalanan macet panas beracun ini,
senantiasa jadi rutinitas suci, jalur ibadah kami,
madha-bhakti pada anak-istri, pada ibu pertiwi

Tangerang-Jakarta
PP, Pagi-Petang

Pengendara Kerja Ibu Kota

Deru deru di udara berdebu
Pagi subuh dan petang riuh
Rapat melaju beringas maju
Gas-rem gas-rem gigi dua gigi satu
Jangan senggol jangan jatuh

Segera sampai, itu yang dimau
Pagi menjemput rejeki
Petang keluarga menanti

Ya, panas dan hujan, itu penderitaan
Ya, pekat polusi, itu jalur kematian

Tapi itu jalur kehidupan!
Tautkan rupiah dan rumah
Agar dapur tak berhenti berasap
Agar generasi penerus tak putus sekolah
Agar peradaban bangsa tak punah!

Ah, moga itu juga selalu jalur kejujuran
Jalur pengabdian, jalur ibadah, ‘tuk pancarkan citra Allah
(di ibu kota, menjaga nurani sungguh tak mudah)

Tangerang-Jakarta
PP, Pagi-Petang

Penasaran Kala Pagi

Meniti jalanan subuh seperti ini, sadari hari masih terbentang panjang di depan, sadari akan ada banyak pilihan pikiran, perkataan dan tindakan, banyak keputusan, besar atau kecil, namun selalu dua saja jenisnya: menghadirkan kerajaan Allah atau kerajaan iblis. Penasaran mengusik hati: Adakah polah dan ibadah sepanjang hari ini berkenan di hati Dia yang mempercayakan padaku kehidupan ini?

Kuperhatikan beragam orang dengan seragam masing-masing melaju di depan, kanan dan kiri; (tentara, polisi, satpam, petugas DLLAJR, pegawai SPBU, PNS, dll). Seragam itu mewakili tuan di dunia yang mereka layani. Kusadar seragam itu juga kumiliki, kukenakan kemanapun aku pergi: seragam saksi Sang Maha Kudus, murid Yesus, pelayan Kristus. Penasaran menyeruak di hati: Akankah kekudusanNya kupancarkan hari ini? Antusiaskah aku terhadap pelajaran apapun yang Sang Rabbi siapkan untukku hari ini? Hamba seperti apa aku akan didapati-Nya sepulang kerja sore nanti?

Kolose 3:17
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Kolose 3:23-24
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Jakarta, 30 Mei 2012

Senin, 16 April 2012

Spooring and Balancing

Mobil dipakai sudah lama, ke bengkel ia harus dibawa.
Komponen aus, menyimpanglah sudut kelurusan roda.
Lajunya limbung, terganggu kestabilan arahnya.
Harus disetel ulang keseimbangannya,
Spur & Balancing solusinya!

Jalan kehidupanpun tak selalu rata, kawan.
Kadang guncangan lobang atau kerikil tak terhindarkan.
Tak jarang pula ambisi dan visi salib-menyalib,
geronjal di luar badan jalan terpaksa diterjang.
Auslah ketajaman rohani, teralamilah ketidak-stabilan.

Maka waktu-waktu teduh itu bengkelnya, kawan.
Berbagai keselarasan ditata ulang, penuhi standard Tuhan:
mengasihi Allah, diri dan sesama, semua secara maksimal.
Agar fokus dan tujuan hidup kembali stabil dan normal,
agar gerak kesaksian misi injil Tuhan melaju optimal.

Matius 22:37-39
Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Tangerang, 22 Maret 2012
Pulang kantor tadi mampir bengkel.
Bengkelnya buruk, sudah diservice masih terasa oleng lajunya

Jumat, 02 Maret 2012

Kaca Helm Buram


Doa dan Firman itu kaca helm kita
Lindungi mata dari debu jalanan sarat polusi dosa
Tak rajin merawatnya, visi kita buram, 
terutama saat mataharimu tak bersinar dan hidup terasa kelam.
Jarak pandang hanya sejengkal, luput awasi lobang di depan, 
ada resiko tiba-tiba terjungkal.

Seperti itulah visi rohani, kawan.
Segamblang apapun dijelaskan, sedetil apapun dipaparkan,
bahkan... sebagus apapun pikiran-perasaan tercerahkan,
tetaplah di sini dan saat ini saja yang digemari atau dikuatirkan.

Karena visi itu tentang realitas hari ini
yang dijalani dengan perspektif jauh ke depan,
mudah kabur dan samar bagi mata hati, 
bagi bathin yang jarang dibersihkan,
oleh persekutuan hangat, oleh relasi erat, 
dengan Sang Empunya dan Pemberi visi,
lewat doa dan Firman.

Mazmur 119:105.
Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Mataku, tertuju padaMU
Segnap hidupku, kusrahkan padaMU
Bimbing aku masuk rencanaMU
‘tuk membesarkan krajaanMU
Kumau mengikuti kehendakMU ya Bapa
Kumau slalu, menyenangkan hatiMU
(Lex’s Trio)

Tangerang, 20 Februari 2012
Hujan tiap hari, sisakan noda kotor di kaca helm,
subuh tadi hampir jatuh karena lobang kecil di badan jalan.

Sabtu, 04 Februari 2012

Spiritual Sleepy Driving

Refleksi, khusus edisi akhir pekan:

Tadi pagi aku baca pengakuan Afriani, sopir Xenia maut tragedi Tugu Tani itu di Kompas.com. Dia ngaku ga minum alkohol dan yakin kecelakaan itu bukan akibat pengaruh narkoba, melainkan karena dia ngantuk berat sampai sejenak hilang kesadaran. Entah benar entah bohong, tapi soal ngantuk saat mengemudi, aku paham sekali.
Aku ingat dulu 2-3 kali hampir dijemput maut karena ngantuk. Waktu itu masih pelayanan di Perkantas Malang, seminggu sekali pulang ke rumah di Japanan (Pasuruan) naik motor. Terutama di jalan yang lurus panjang, kantuk hebat acap menyerang. Ada saat-saat seluruh tubuhku kirim sinyal ke otak, ke dunia khayalanku, ke kehendakku, berbisik: “Ndak papa kok pejam mata sejenak, sedetik dua detik aja, mumpung jalanan lagi lurus dan sepi nih.”  Aku tahu bisikan itu sangat berbahaya, tapi karena ingin segera tiba di rumah, aku enggan berhenti. Kuingat 2-3 kali kuturuti bisikan menipu itu, akibatnya motorku melaju zigzag di tengah badan jalan. Bersyukur banget klakson truk dan bis di belakang bangunkan aku, sadarkan aku kalo aku sedang mengemudi sambil tidur. Bunyi keras klakson itu cukup membuatku ambil tindakan cepat dan sangat menentukan: kembali ke jalur kiri, pernah juga menepi minum kopi.
Di situ aku tahu satu hal: tak seorangpun ingin tertidur saat mengendarai motor atau mobil, tapi kelelahan fisik itu bisa bikin ngantuk saat mengemudi, dan efeknya termasuk mendengar bisikan-bisikan menipu itu. Menyerah pada moment-moment ngantuk itu, menyerah pada bisikan-bisikan untuk tidur sejenak itu, maka diriku sedang dalam bahaya, demikian juga orang-orang di sekitarku di jalanan itu. Akibatnya fatalnya sudah terbukti, seperti diberitakan koran dan TV. Karena sopir bis atau pengendara motor ngantuk, banyak nyawa melayang (terutama di musim mudik lebaran). Aku setuju sekali dengan rambu-rambu yang beri peringatan: Kelelahan dapat Membunuh Anda dan Orang lain. Rasanya aku juga setuju rencana polisi dan pengadilan yang akan beri tambahan hukuman bagi pengendara yang tertidur dan sebabkan kecelakaan.
Kupikir-pikir, kehidupan rohani dan moral juga seperti itu, kawan. Ada saat-saat dalam kehidupan kristiani itu, saat-saat seperti momen-momen tiba-tiba ngantuk saat nyetir itu, saat-saat ketika kita mendengar bisikan-bisikan menggoda itu, yang berbisik pada kita: “Nyerah aja, jangan ditahan-tahan kali ini, berhentilah melawan sejenak saja, ngapain sih sengotot itu jaga kekudusan, jaga integritas. Pencobaan ini sudah melebihi kekuatanmu. Ga ada yang peduli dan mau bantu kamu. Orang lain sudah ga kuat dari kemarin-kemarin. Ambil saja jalan pintas itu. Skali-kali gapapa kok abaikan tuhan. Makanya doa, baca alkitab libur dulu, biar ga berat buat keputusan itu. Atau: Ayolah, sekali-kali tutup matalah pada sesama yang butuh pertolongan, berhentilah menegakkan keadilan, selingkuh tipis-tipis di Twitter atau FaceBook ga papalah. Kamu lelah, butuh selingan, butuh tidur, ndak akan terjadi apa-apa kok, tenang aja, dll.dst.
Pernah atau sedang berpikir seperti itu, kawan? Jika ya, maka yang kita perlukan adalah memutuskan tindakan-tindakan yang secara rohani sejajar dengan keputusan menepi, hentikan kendaraan, keluar sejenak untuk streching, atau minum kopi, atau bahkan nginap di hotel kalau perjalanan masih jauh. Apa itu tindakan semacam itu yang sejajar secara rohani? Salah satunya AWG, Alone with GOD itu, meditasi ala kristen itu, menyendiri bersama Tuhan, hanya ditemani alkitab atau sebuah buku rohani, juga diary/jurnal pribadi. Atau bisa juga ambil cuti, kawan, lakukan retret pribadi. Sungguh, kita butuh disiplin rohani semacam itu di sepanjang hidup kita, sampai akhir hidup kita. Karena kecelakaan maut dalam matra rohani itu juga sering terjadi (hanya saja media tidak terlalu soroti), bahkan faktor ngantuk rohani inilah yang kerap mendahului banyak tragedi dalam kehidupan ini.
Kawan, tragedi Tugu Tani itu bukan tontonan, melainkan peringatan. Jangan kita berpikir, hanya karena kita punya motivasi dan tujuan yang baik, entah dalam studi, bekerja, pelayanan maupun dalam kehidupan pribadi, hanya karena kita kaya pengalaman atau hamba Tuhan besar, hanya karena kita sangat segar saat masuk mobil, maka kita tak akan bisa mengantuk di sepanjang jalan. Jangan, jangan berpikir seperti itu. Secara rohani, jangan berpikir yang dialami Afriani itu tidak bisa terjadi pada kita. Jika kita tidak waspada, itu akan terjadi! Ingat, begitu kita membiarkan diri dalam kondisi rohani/moral yang ngantuk ini, kita bisa akhirnya benar-benar menyerah pada bisikan-bisikan untuk sejenak tidur sambil nyetir itu. Dan itu berarti kita sedang mempertaruhkan diri kita dalam resiko yang sangat berbahaya. Ya, diri kita dan semua orang yang berinteraksi dengan kita.
Ijinkan aku sedikit berbagi tips tambahan buat hindari kantuk rohani dan moral ini. Aku berangkat ke kantor 5.30. Tapi kuusahakan jam 5.20 sudah siap. Sengaja kupakai 10 menit sekedar pandangi istri dan 2 anak yang masih tidur, demi menjaga kejernihan kesadaranku, supaya aku selalu ingat, bahwa merekalah yang akan menderita akibatnya jika aku membiarkan diri dalam kondisi rohani yang ngantuk, bahwa merekalah korban terdekat, turut menanggung sedih dan malu, jika aku menyerah pada bisikan-bisikan yang mengggodaku untuk “tidur sejenak”: sejenak tidak menjaga kejujuran, kekudusan atau integritas di tempat kerja. Sejauh ini it works, kawan. (Aku mengira-ngira, menduga-duga, para pejabat yang sekarang keluar masuk ruang pengadilan atau yang sudah nginap di penjara itu mungkin di meja kantornya dulu ga pasang foto keluarga, di dompet juga ngga bawaJ)
Tapi bagaimana dengan Anda, kawan? Bagaimana sebenarnya kondisi rohani atau kesegaran moral Anda saat ini? Diriku dan dirimu tidak imune terhadap kemungkinan ngantuk dan tertidur rohani ini. Cobalah introspeksi, dalam situasi dan pergumulan hidup Anda saat ini, bisikan-bisikan apa yang terus menggodai, merayu Anda untuk menyerah dan berbuat tidak patut? Coba periksa sejenak, apakah keyakinan-keyakinan iman Anda masih seteguh dulu: “Bahwa Allah sedang bersamaku saat ini! Bahwa Allah sedang terus memimpinku saat ini! Bahwa Allah akan menggenapi janji-janjiNya tentang masa depanku! Bahwa pencobaan yang kuhadapi saat ini tidak akan melebihi kekuatanku!” Jika tidak yakin, kusarankan Anda untuk hentikan mobil, minum kopi, ambil waktu menyendiri bersama Tuhan dan alkitab Anda. Bagus juga bawa foto keluarga, atau foto orang-orang yang Anda kasihi, lakukan stretching rohani, ijinkan klakson ilahi dan rambu-rambu sorgawi jernihkan nurani, bangunkan rohani Anda kembali. Maukah Anda, kawan? Tuhan memberkati. Amin.



Jakarta, 4 Feb 2012
mengenang 9 korban kecelakaan Tugu Tani,
mengenang  korban2 akibat pemimpin 'ngantuk' dalam gereja & lembaga pelayanan 


Rabu, 01 Februari 2012

Tradisi Onsen & Meditasi Kristen

Mengguyur/benamkan badan di air hangat sepulang kerja, o alangkah nikmatnya.
Kehangatan meresap di pori-pori kita, kepenatan sirna.
Ada kelegaan di sana, tatkala raga kembali rasakan bugarnya.
Emosi jadi ringan, hati terasa lapang.
Siap bercengkrama dengan keluarga, bahkan kadang siap lanjutkan kerja.

Merenungkan Firman seperti itu juga, kawan!
Mendapat ayat-ayat dari alkitab, dari kotbah atau up-date status teman,
Pilihlah satu dua yang terasa mengganggu atau paling mengena,
Ambil waktu memikirkannya dengan seksama
Boleh di mana saja, sambil tiduranpun tak mengapa;

Ijinkan hati terus disirami dan meresapi kebenarannya,
Fungsikan akal budi untuk pastikan prisnsip-prinsip pengajarannya
Temukan aplikasinya dalam area tertentu hidup kita atau situasi bangsa dan zaman kita
O, niscaya kotornya hati letihnya jiwa bersua penawarnya,
Jiwa kembali segar, iman jadi bugar, tangan dan kaki terasa ringan:
Semangat lagi memikul beban, siap berkarya bagi sesama,
Lanjut melangkah wujudkan tujuan kekal Tuhan di dalam dan bagi dunia!
Selamat mencobaJ

Mazmur 1:1-2 “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, ...tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. “

Mazmur 119:97-99. Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.


Tangerang, 30 Jan’ 2012
Barusan mandi air hangat, cicipi manfaat tradisi Onsen,
tradisi mandi air hangat ala Jepang yang kubaca dari artikel di web.