Rekan Sepanggilan, Menulislah!

Pengunjung yang terhormat, para saksi Kristus & para pelayan Tuhan, ini adalah blog mutiara DOA, SAAT TEDUH dan MEDITASI Kristen (kecuali sisipan-sisipan khususnya). Sebuah Kedai Doa, Warung SaTe, atau Kantin Yoga, terserah Anda menyebutnya. Kalo saya, ini Cafe Shalom:-) Lebih dari itu, blog ini adalah ajakan untuk menulis. Tulislah apa saja, selembar sehari, di diary atau jurnal pribadi. Don't worry, bahan-bahannya akan Tuhan kirim tiap hari, lewat berbagai macam situasi, Anda hanya tinggal mencatatnya dengan setia & sepenuh hati. Apapun genre-nya, semua bentuk tulisan itu bagus. Semua memastikan agar kita tak mudah lupa berkat dan pesan-Nya untuk jangka waktu sangat lama. Dan sudah barang tentu, tulisan Anda bisa jadi berkat buat sesama, asupan sehat bagi keluarga besar gereja-Nya. Selamat mencoba. Mulailah hari ini!

Tampilkan postingan dengan label j. SAAT dalam Bingkai Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label j. SAAT dalam Bingkai Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 September 2012

A Home at Jl. Arief Margono 18, Malang

An Unforgetable Memory

4 tahun di sana, terisi penuh 6 kardus besar
diktat kuliah, paper, makalah & artikel foto-copy
4 tahun di sana, terisi penuh 2 diary, seratusan puisi
peristiwa, kesan dan teman dari pelosok negri
yang ditempa, taati panggilan ilahi

Kini kutlah pergi, bergelar alumni
berbekal kenangan hitam dan putih:
Ada disiplin dan kekudusan di sana,
diselingi beragam pelanggaran dan dosa
Konflik tak pernah tiada, syukur ada juga cinta
Ada pesaing dan pendengki, syukur ada sobat tua & muda yang tulus hati
(di dalam situ seindah & sekeras di luar sana,
panggung sempurna latih jiwa menghamba)

sekilas, teringat tiap sudutnya
taman dan kolam, meja ping-pong, meja satpamnya,
bangku-bangku kelas, lingkar chapel-nya, seram mimbarnya
rak-rak perpus, ruang komputer, riuh ruang makannya

Bisa-bisa kelak kutulis buku, bukan lagi puisi
tentang segala hal di rumah besar Jl. Arief Margono 18 ini
“Seminary Undercover,” itu judul yang sexy
dengan beragam daftar isi:

tentang paper-papernya yang kuras energi
tentang gemerlap indomie di malam hari
tentang pos-pos SM yang tautkan dua hati
tentang konseling-konseling berujung patah hati
tentang konflik-konflik yang disimpan rapi karena takut sangsi
tentang tugas ke kantor pos dan ke pasarnya, berdua-dua tiap hari
tentang rekan-rekan yang tereliminasi, angkat koper tinggalkan beberapa misteri
tentang bunyi belnya yang tekun hipnotis kami, dikte kami
ke acara apa saja yang wajib kami ikuti
tentang gemerincing garpu sendok piring di ruang makannya,
dengan doa-doa yang kadang mengundang tawa, eh dilarang ketawa kami
tentang dosen yang rapat di kamis sore saat kami pergi
tentang malam kesaksian di perpus 2 jum’at sekali
tentang keringat di jum’at siang, kerja bakti
tentang senam ala kadarnya di senin pagi
tentang latihan paduan suaranya di selasa siang yang jadi paduan kantuk
namun selalu berhasil tampil memikat hati dan menuai puji
tentang gule-rawon-tempe warung ijo di sebelah tiap sabtu pagi
tentang wisuda dan kamp-kamp yang tak pernah sepi
tentang panggung bonekanya yang laris sekali
tentang dosa kolektif HP yang tak terbendung tanda tangan janji pribadi
tentang berbagai barang dan makanan sumbangan
tanpa pernah kenal dan peduli pada si pemberi
tentang pria yang altruis, atau yang berjiwa yahudi
yang kagumi Leon Morris, atau yang bijak bercelana tinggi
tentang pasien usus buntu di tiap generasi
tentang galon, tentang ....ah, masih banyak sekali!

Ah, itu rumah yang kecil untuk keluarga besar
Sesak oleh jadual pelayanan dan tugas-tugas studi
Apalagi masing-masing pemuda-pemudi pilihan Tuhan datang membawa
setumpuk kerapuhan, keunikan, kesombongan dan ambisi
membuat gesekan dan benturan bukan barang langka,
sehingga keretakan atau pecahnya relasi kerap terjadi
jadi ajang latihan tajamkan seni rekonsiliasi
(atau asah skill menutup-nutupi konflik yang natural sekali)
siapkan kami jadi pembawa damai bagi gereja dan dunia
di luar sana yang sarat dengan peperangan dan dengki

Ah, itu tempat cinta diam-diam bersemi
sekaligus saksi bisu tragedi asmara yang kandas, mati
Ia bisa penjara putih, bisa istana teologia
atau bunker sembunyi yang nyaman sekali
tergantung perspektif tiap pribadi

Ah, masih banyak kenangan, kawan,
Tapi ingin kukenang yang ini saja:
Cinta dan Kasih setia Tuhan Yesus kita
Yang terus panggil dan utus penuai-Nya
Dari masta ke masta, dari generasi ke generasi.

Alumna masta 2002
Hari-hari terakhir di Februari ‘06 

Senin, 06 Agustus 2012

Puisi Konseling Pastorium

[Hasil konseling dengan Ibu Ayleen, problem pacaran dengan Lie Kian]:


Man without Boundaries

Kemana-mana bawa papan pengumuman:
“Wahai semua, silahkan datang!”
“Siapapun Anda, selalu ada bantuan!”
Mendengar dan memantulkan, tak ada ruginya bukan?!
Apalagi itu klop benar dengan kehendak Tuhan

Walau kadang kerepotan, kewalahan
Walau orang terdekat jadi terabaikan
Reputasi jadi berhala terpendam
 “No!” itu benar-benar tabu diucapkan

Memasuki dan dimasuki, itu kesukaan
Dilibatkan atau mengambil bagian, itu kepuasan.
Itu kekuatan, sekaligus kelemahan
Menolong tidak murni pelayanan,
melainkan suatu kebutuhan 
Kelak istri dan anak dirugikan
Tak mau berubah, tersisa 2 kemungkinan:
Mencari yang setipe, atau hidup melajang.


The Opposites

Aku ingin ia keluar, ia memintaku ke dalam
Aku ajak dia ke panggung, ia mau kami jadi penonton
Baginya sendiri itu energi, di kerumunan tangkiku terisi
Rumahku terbuka hingga ke kamar, ruang tamu dia itu batas maksimal

Extrovert tulen Vs introvert sejati, bisa diatasi
Lobang-lobang masa lalu perparah komplikasi
Satu asa tak kunjung muara:
Ia merindu diperlakukan spesial
Aku mengiba rasa percaya

2 tahun merajut tekat, jiwa semakin lekat
2 tahun lega dan luka berjalin erat
Tema yang sama, tak kunjung sepakat
Keputusan berat akhirnya dibuat

Bagiku sendiri makna keputusan itu masih pucat:
Entah sikap realistis atau pesimis
Entah ekspresi berani atau pengecut
Entah tindakan iman atau melancangi Tuhan
  

[Dari Cermin Konseling dengan Cie Marlina MK]:

Fireman
Memang dia begitu.... tapi....”
Fokus pada sisi baik orang, sekadar alasan
Perasaan negatif ditabukan, kemarahan ditekan,
Karena marah sama dengan jahat
Karena Mami tidak pernah marah dengan sehat
Maka “Orang baik itu tidak marah,” jadi semboyan
Akumulasinya jelas ledakan, ekspresinya tidak proporsional

Pemadam kebakaran, itu jadi peran
Api belum menyala pun aku sibuk duluan
Barusan disadarkan:
Bahwa tak semua kebakaran harus dipadamkan.
Bahwa ada kebakaran yang harus berani dibiarkan,
bahkan diciptakan!
Nopember 2005


Everytime You Go,
You take a piece of me with you!

Dalam tiap perpisahan, rasa kehilangan mendera sangat
Ternyata yang menghilang bukan kenalan atau sahabat
Dirikulah sendirilah yang terancam lenyap
Karena jati diriku dan tekat menjadi berkat begitu lekat

Berelasi dekat, terlibat, itu kekuatan
Tapi nilai diri yang bergantung pada pelayanan,
itu benang kusut masa lalu, harus diurai, digulung rapi dulu,
Agar siap merajut Injil dalam dunia ini, dengan lebih rapi, lebih indah
Agar bisa mengikat jiwa lebih kuat, pada Sang Juru Selamat.
Kamis, 10 Januari ‘06

Mami: an Enemy?

Mami is good, Mami is loving, Mami likes joking
She is smart, inisiative
Mami is hot-tempered, Mami is confronting, Mami is intimidating
She is ....immoral
Mami is ill badly, Mami is lonely, Mami has gone finally
Am I sad? Or happy?
The answer is still uneasy: I miss her but troubled by missing her
The mistery remains: She’s the one I love most or the one I don’t like .... most ?

Jum’at, 3 Februari ‘06

Minggu, 22 Juli 2012

Angkatan ini pun perlu Jembatan

Sisipan, kotbah teman dipuisikan:

Menyeberang Yordan itu bukan perkara gampang
Karena jaraknya bukan dari tepi ke tepian,
melainkan sejauh Mesir-Kanaan.
Generasi itu perlu jembatan,
tapi bukan jembatan Yordan, itu bagian TUHAN,
melainkan jembatan sejarah, kisah-kisah perbuatan besar Allah,
pada generasi padang gurun yang telah mati di tengah jalan.
Musa telah wariskan tulisan, tugas Yosua membacakan,
ceritakan ulang pada angkatan tanah perjanjian.

Angkatan modern ini juga mengidap kekaburan sejarah.
Tak tahu dari mana asal, pesimis apa yang ditawarkan masa depan,
melulu peduli dan puasi diri dengan yang “di sini dan saat ini.”
Angkatan ini pun perlu jembatan: Jembatan sejarah penebusan TUHAN.
Tugas kita bukanlah membelah Yordan, itu bagian Tuhan.
Bagian Yosua, itu yang kita emban:
bersaksi dan melayani generasi ini,
membelah kekerasan hati dan kebutaan rohani angkatan ini, 
dengan Alkitab kita, kisah pertobatan kita, kesaksian hidup kita.
Yakinkan mereka, bahwa Allah yang ini adalah Allah yang sama,
yang hidup, TUHAN yang masih beserta, dan sedang terus berkarya,
di padang gurun dunia, di belantara kehidupan zaman ini. 

Jemaat butuh jembatan, Yosua-Yosua masa kini harus berperan.
Hidup lama dan hidup baru itu perlu jembatan, Allah dan kita berbagi peran.
Lahir baru itu karya Tuhan, tapi menjalani hidup baru itu perlu karya kita:
Beriman kepada Kristus itu karya Roh Kudus Tuhan, tapi
keserupaan dengan Kristus itu perlu karya hamba-hamba Tuhan.
Maka, mari kawan, terus setia, giat membangun jembatan!

Chapel Pagi, 26 Jan ‘06
Inspired by  Kotbah Davy Duck

on Joshua 3:1-17

Jumat, 20 Juli 2012

Hukum Se’sual yang Luas

Sisipan, Puisi 10 Hukum:

Kemarin pijat, sakit semua.
Sengsara membawa nikmat, kata pak tuna netra.
Pagi ini ibadah: Jangan berzinah!
Nikmat membawa sengsara, kata si pengkotbah kecil perkasa.

Dulu bisikan dan cekikikan rahasia, kini cerita terbuka dan bangga.
Pendidikan seks,  seminar seks, jadi pornografi ilmiah belaka.
Bacaan dan tontonannya di mana-mana, sisi enak dan nikmat saja.
Sisi pahitnya jarang dibuka: Siphilis, AIDS atau buntingnya.

Hukum bangsa beradab sejak dulu kala berkata:
“wanita itu sudah menikah, jangan ambil milik orang lain”
Umat Allah jelas standarnya beda: Milik siapa bukan masalahnya.
Alkitab lugas dan sederhana:
Zinah itu pelanggaran terhadap relationship maha mulia,
pelecehan unity dan relasi rancangan-Nya semula:
AKU milikmu, engkau milik-KU.
AKU suamimu yang sah, kamu istri-KU.
AKU Allah yang pencemburu!

Zinahmu nodai ikatan kuat kita, menyakitkan buat-KU,
wajar bila bangkit murka-KU.
Israel dengan anak lembu emas dan dengan batu-batu,
umat-KU dengan lelaki perempuan yang bukan milik mereka,
dan kamu mahasiswa Sekolah Alkitab Asia Tenggara, ....
Kamu dengan fantasi-fantasi porno dan masturbasimu.
Tidak terlibat semua itu?? Jangan senang dulu.
Kamu zinah dengan abaikan gairah dan kehangatan relasimu dengan-KU,
terlalu jarang merindukan AKU,
terlalu dingin ketika mendekati-KU.
Fokusmu hanya menggauli buku-buku, tugas-tugas kuliah dan pelayanan ini-itu.

Ingat, tubuhmu itu persembahan,
demikian pula seluruh aktifitasmu untuk-KU.
Dan ini kata kunci untukmu:
Jaga relasimu dengan-KU!

What are YOU thinking about me right now?
Are YOU passionate enough with me?
Itu seharusnya jadi pertanyaanmu setiap waktu!

SAAT, Chapel Pagi 17 Okt. ‘05
Inspired by kotbah Hana
On Exodus 20:14

Kamis, 19 Juli 2012

Licenced to Kill? No!

Sisipan, Puisi 10 Hukum:

Aneh juga...
Sepanjang Mesir-Kanaan
puluhan ribu mayat bergelimpang
Israel dibantai dan membantai bangsa yang menghadang.
Namun di gunung itu Musa umumkan:
Matiku, matimu, mati mereka,
YHWH saja penentu, tak perlu sok membantu!
Ini hukum universal di tengah universalitas dosa.

Aneh pula...
Sepanjang sejarah kita
Jutaan jiwa melayang karena perang
Perang dunia, perang agama, perang etnis, perang bisnis
Manusia modern saling bantai di semua benua
Dan di bukit itu Yesus berkotbah:
Kafirku, kafirmu, kafir mereka,
Jahilku, jahilmu, jahil mereka,
Bapa saja penentu, tak perlu sok tahu!
Ini hukum kasih di tengah terorisme mendunia

Why?
Hilangkan nyawa, lenyapkan eksistensi manusia
Itu hak Allah Pencipta
“Jangan rasah!” [Qal Imperfect 2 Maskulin Singular],
itu dilarang merasa lebih tinggi,
karena Tuhan saja Tuan semua insan di dunia.
Kristus mau kita merasa equal dengan sesama
Tiap hari merasa sejajar dengan tetangga.

Why?
Allah bukan berhala yang haus darah dan nyawa.
Allah memandang berharga sebuah nyawa.
Allah tahu tiap kita berbakat hilangkan nyawa atau
eksistensi saudara kita.
Why?
Karena sesama manusia itu rekan sewarga,
Karena kerajaan Allah itu sebuah keluarga,
Karena hukum kasih itu sempurna,
Karena persatuan itu agenda komunita orang percaya,
Karena Injil itu jelas, kesaksian unity kita yang sering bias!

Maka Surat Ijin Membunuh itu
Allah saja yang berhak punya!

Chapel Pagi, 2 Oktober ‘05
Inspired by Kotbah Sammy on Exodus 20:13

Rabu, 18 Juli 2012

Hormati Mom & Dad, Selalu!

Sisipan, Puisi 10 Hukum

Tentang Ayah-Ibu, Babe-Nyak, Bokap-Nyokap,
Papi-Mami, Mom & Dad, Bapa-Biyung,
Sang Maha Suci bilang begini:

Hormatilah!” itu perintah.
Akulah TUHAN Allahmu” itu alasan utama perintah.
Long Life, Long life” itu upah.

Ini harga mati: hormat, rawat, kasihi.
Ya jasmani ya rohani.
Ini hormat dan taat yang lengkap, sejati.

Hak dan otoritas mereka itu dari Sang Pencipta Suci
Pelanggaran berarti serangan langsung terhadap Sang Penguasa Sejati.
Mereka salahgunakan otoritas dan hak, bisa terjadi?
Ya. Ketaatan kita prioritaskan pada Sang Sumber Otoritas itu sendiri

Memang sulit ini situasi;
Kita makin bijak, mereka makin error, pikun dan cerewet.
Kita makin mandiri, mereka makin bergantung.
Tapi ingat ini baik-baik ( bukan karma, tapi bisa terjadi):
kini kita memperlakukan,
kelak tiba masa kita diperlakukan.
Maka hati-hati kawan!


Chapel Pagi, 14 Sept ‘05
Inspired by kotbah Harto
Based on Exodus 20:12

Selasa, 17 Juli 2012

Shakespeare Keliru!

Sisipan, Puisi 10 Hukum

Bila nama tidak penting,
kenapa laku dijual? Kenapa takut disalahgunakan?
Kenapa marah dijelek-jelekkan?
Kenapa ngotot minta dibersihkan?
Itu karena namamu adalah kamu.

Nama-KU pun adalah AKU! AKU yang...
mencipta semesta dalam 7 hari itu,
menunggangbalikkan Sodom Gomora itu,
membunuh anak-anak sulung Mesir itu,
membelah laut Teberau,
turunkan manna dan daging di padang gurun itu,
membangkitkan Lazarus itu,
menenangkan badai di danau itu,
membasuh kaki-kaki kotor itu, dan
tersalib bagimu di Jum’at siang itu.

NamaKU luhur, mulia, kudus
Kamu menyandangnya, itu pilihanKU
Nama belakangmu YHWH, margamu YESUS
Banggalah, takutlah, junjunglah
Bertuturlah dan hiduplah selaras keluhuran namaKU
Di atas maupun di bawah mimbar
Di depan orang, di saat sendirian
Di waktu aman, di masa aniaya besar!

Sebab ketika namaKU kamu sebut sembarangan:
Kamu salahgunakan, kamu jual (!),
yang rugi bukan AKU
(karena AKU selamanya tetap luhur, mulia, kudus),   
melainkan siapapun yang 
         mendengar kotbahmu
         dan mengamati hidupmu, 
         etos kerjamu, etos pelayananmu,
lalu tersandung jatuh.

Karena mereka bisa salah-mengerti AKU,
dan sulit tertarik atau percaya kepadaKU
dan terancam tidak masuk kebahagiaan sorgaKU.
Dan kamu sendiri, jangan pura-pura kaget
bila kelak KUbentak: “AKU tidak kenal kamu!!”,
karena AKU telah memperingatkanmu,
bahwa sebuah nama itu penting, apalagi Nama-KU.
Shakespeare itu benar-benar keliru!

Chapel Pagi, 29 Agust ‘05
Inspired by kotbah Cahyadi
on Exodus 20:7.  

Senin, 16 Juli 2012

Sembahlah Patung!

Sisipan, Puisi 10 Hukum

Buat saja bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Silahkan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya. Abaikan saja fakta bahwa Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang sakit hati melihat perjinahanmu dengan patung-patung itu. Mau anggap sepi hukuman kerasKU, silahkan. Mau tidak pedulikan kasih setiaKU pada orang-orang yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKU, silahkan.

Yang jelas AKU tetap TUHAN,
Yang pasti AKU tetap Pencipta dan Penguasa tunggal.
Aku tidak rugi apapun karena patung itu
KemuliaanKU dan kekudusanKU tak berkurang sedikitpun karena berhala itu.
I have nothing to loose, tahu!
Siapa yang rugi kalau begitu? Dan pikir saja sendiri,
kenapa AKU tetap saja cemburu kalau bukan semata demi kebaikanmu, demi keuntungan kekalmu.

Sekarang ingat baik-baik,
apa saja patung-patung yang serobot posisiKU dalam hidupmu.
Sekarang terserah kamu:
simpan atau buang patung-patung itu.
Hanya, ingatlah jijikKU dan murkaKU.
AKU sedih melihatmu sebodoh itu,
dan AKU masih menunggumu.

Chapel Pagi, 31 Agust ‘05
Inspired by kotbah Lukman
on Exodus 20:4-6

Sabtu, 14 Juli 2012

Sebelum Waktu itu Tiba

Sajak Kotbah di Bukit:

Di sini kami menikmati roti dan anggur-Mu,
kelak maukah minum cawan-MU?
Kami suka suasana ruang atas itu, kaki kami dibasuh oleh-MU,
kelak akankah menjauhi Getsemani dan viadolorosa,
menolak membasuh kaki jemaat-MU?
Kami menginginkan mahkota,
kelak akankah membuang salib?

Kiranya keamanan dan kenyamanan hidup di seminari ini
tidak bikin aku dan teman-teman terlena, ya TUHAN.
Bantu kami justru memanfaatkannya untuk terus hayati kebenaran,
betapa mengikut Engkau, melayani Engkau, sungguh-sungguh bukan jalan yang aman, melainkan jalan yang benar.
Sehingga jika tiba waktunya, aku dan teman-teman siap,
tidak mengeluh apalagi marah dan meninggalkan jalan panggilanMu.
Amin. 


Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelumkamu.
Matius 5:11-12

Chapel Pagi, Jum’at 9 Sept ‘05
Inspired by kotbah Ko Seniman

Jumat, 13 Juli 2012

Suci itu Menjadi, bukan Kondisi

Sajak Kotbah di Bukit:

Tampil beda, baju agamawi
bagian luar saleh, kasat mata rohani,
O, itu bisa kubur bau berlabur putih, Farisi.

Suci itu di pusatnya yang murni, kawan.
Itu bagian dalam, tak terdeteksi
Susu dan logam murni, tanpa campuran sama sekali.
Kehendaknya tunggal: muliakan Allah
Tiap kristen wajib miliki
Karena Bapa itu suci, Anak itu suci.

Tapi itu begitu ideal, begitu sempurna
Sedangkan hati ini begitu mudah jatuh, terlalu kotor.
Tenang, ada kabar baik: Suci hati itu progresif,
Allahlah yang beraksi, karya Roh Kudus sendiri

Bagian kita?
Sadar... tahu diri, mohon transformasi
Antusias... kejar, pantang berhenti usir pencemar hati
Reflektif.... evaluasi, introspeksi, cermati semua indikasi

Jatuh, bangun lagi. Gagal, ulang lagi
Itu grafik menuju suci, perang pasti dimenangi
Bukan untuk dipuji, semata demi raih suci sejati
Suci yang murni, tidak terdistorsi

Karena suci hati tak kenal henti
Saat santai, saat sepi, saat sendiri
Memuliakan Allah, itu fokus ambisi,
Dan Allah nampak di muka belakang, di kanan kiri

Berbahagialah orang yang suci hatinya,
karena mereka akan melihat Allah
Matius 5:8

Chapel Pagi, 28 Sept ‘05
Inspired by kotbah Rosa

Sabtu, 30 Juni 2012

Setting Puisi-puisi tentang SAAT


Puisi dan refleksi ini gambarkan SAAT periode 2002-2006, masa studi sang bloger. Smoga saat Anda membacanya, situasi dan keadaan SAAT sudah berubah, makin membaik tentunya.

Sama seperti revolusi itu perlu korban darah, maka coretan-coretan tercecer di sepanjang 4 tahun ini, yang habiskan modal energi mental (dan fisik, karena tak jarang harus bangun tengah malam demi mencatat inspirasi dan mimpi yang lewat), smoga jadi pupuk, penyubur reformasi yang pelan tapi pasti sedang terjadi dan akan berhasil merobohkan tembok-tembok tradisi yang kontradiktif dengan prinsip-prinsip rohani, di tengah kerinduan tetap menjunjung tinggi keunikan-keunikan positif idealisme para pendiri.

-SOLO, Maret 2006-

Jumat, 29 Juni 2012

Si Tukang Syair Asrama

Mahasiswa yang dikasihi Yesus

Ketika pak satpam berpaling, ia melihat bahwa mahasiswa yang dikasihi Yesus itu sedang menuju ke arahnya untuk berpamitan, yaitu mahasiswa yang suka jogging di lantai 4 putra, yang suka krupuk dan klepon itu, yang rambutnya “unik” itu, yang serius tapi lucu itu, yang suka nulis-nulis puisi dan refleksi di papan senat di ruang makan itu.

Dialah mahasiswa, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu subyektif, tak selalu akurat, tapi dijamin benar.

Masih banyak hal-hal lain lagi yang terjadi di seminari dan di asrama SAAT, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu persatu, maka agaknya blog ini bahkan hard-disk 500 GB tidak dapat memuat semua puisi dan refleksi yang harus ditulis itu. :-)

SAAT, 2007
usai bayar beaya wisuda

Meninggalkan Asrama

Beginikah rasanya keluar dari kepompong? Ngebet, sekaligus ga rela?
Tinggalkan tempat yang aman dan hangat ini, walau kadang terasa sesak dan pengap juga.
Menolak pergi, untuk apa? Ini fase sudah dirancang-Nya
Agar metamorfosa semakin sempurna, serupa Putra-Nya.

Seperti sayap kupu-kupu muda berkembang sempurna di udara,
dan hiasi taman dengan keelokan warna-warninya,
demikian juga hanya satu cara sayap-sayap kita terentang lebar,
dan terkepak kuat dan menjadi berkat, yakni dengan
terbang ke dalam komunitas gereja dan masyarakat yang nyata,
hadir dan berkarya, di tengah realitas pergumulan jemaat, bangsa dunia
: I believe I can fly !


Jum’at sore, 24 Pebruari ‘06
melangkah keluar gerbang asrama
untuk terakhir kalinya

Klepon & Puisi Pamit

Puisi pamit itu sulit, sesulit ngilangin selulit
Klepon ini bukan karna pelit,
kebetulan aja dompet sedang pailit
Lagipula klepon itu enaknya amit-amit,
mestinya layak dikonsumsi para elit
Bagi yang belum pernah, smoga ga bikin perut melilit

Well, dengan rela dan terpaksa aku pamit
Kenal kalian semua, berkatku selangit
Tapi kelamaan di asrama bisa2 bikin aku makin tulalit
Maka kususul alumni ke dunia nyata sana, bukan untuk cari duit
Tapi supaya Injil makin tersebar ke seluruh kolong langit

(Mohon doakan aku, yang banyak, jangan pelit-pelit!)

Jum’at siang, 24 Pebruari ‘06
Aku bagi-bagi klepon di box loker teman-teman dan di ruang dosen