Rekan Sepanggilan, Menulislah!

Pengunjung yang terhormat, para saksi Kristus & para pelayan Tuhan, ini adalah blog mutiara DOA, SAAT TEDUH dan MEDITASI Kristen (kecuali sisipan-sisipan khususnya). Sebuah Kedai Doa, Warung SaTe, atau Kantin Yoga, terserah Anda menyebutnya. Kalo saya, ini Cafe Shalom:-) Lebih dari itu, blog ini adalah ajakan untuk menulis. Tulislah apa saja, selembar sehari, di diary atau jurnal pribadi. Don't worry, bahan-bahannya akan Tuhan kirim tiap hari, lewat berbagai macam situasi, Anda hanya tinggal mencatatnya dengan setia & sepenuh hati. Apapun genre-nya, semua bentuk tulisan itu bagus. Semua memastikan agar kita tak mudah lupa berkat dan pesan-Nya untuk jangka waktu sangat lama. Dan sudah barang tentu, tulisan Anda bisa jadi berkat buat sesama, asupan sehat bagi keluarga besar gereja-Nya. Selamat mencoba. Mulailah hari ini!

Sabtu, 08 Februari 2014

Lara dan Asa Para Pendosa

Saudara seiman menjauh, aibmu jadi bahan seloroh
Tiada hari tanpa tatap mata dan seringai cemooh
Labelmu: makhluk ceroboh, tak senonoh, batu sotoh
Sesal dan malumu heboh, duniamu serasa roboh.

So, kamu pendosa besar, kawan?
Selamat, kamu calon Pengasih besar!
Kesaksianmu masih bisa menjulang kokoh.
Ijinkan hidupmu kembali dipimpin Roh! 

Lukas 7:41-43 
"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" Jawab Simon: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Kata Yesus kepadanya: "Betul pendapatmu itu." 

Malang, Juni 2011

Rabu, 25 September 2013

Injil Bagi Para Pemodal Kecil

Gideon mau berangkat bersama berpuluh ribuan,
Tuhan ijinkan ia maju hanya bersama ratusan.
Hasilnya? Gideon menuai kemenangan besar!
Wow, pelajaran ini haram untuk dilewatkan, kawan!

Merasa kurang pengalaman saat terima penugasan?
Kesehatan terasa labil saat awali kepanitiaan?
Modal minim saat bisnis mulai menggarap peluang?
Miskin dukungan kala sebuah visi siap dikerjakan?

Ya, itu semua batu besar, bebani langkah awal.
Kemampuan tak proporsional dibanding tantangan.
Aku paham bila hati jadi gamang, penuh gentar.
Tapi jangan surut tekad, mundur itu pantangan.

Mengapa harus demikian? Ada banyak alasan, kawan:
Karena kalkulasi obyektif kita tetaplah penuh keterbatasan;
Karena hikmat kita tak sempurna, ciri-khas makhluk ciptaan;
Karena yang tak realistis itu justru kerap jadi prosedur Tuhan,
tiap kali realitas sorgawi dibumikan, diwujud-nyatakan.

So? Awal sedikit atau banyak itu bukan soal, kawan.
Bahkan sesungguhnya modal besar itupun beresiko besar:
mudah pongahkan hati, Si Aku mudah menuntut dibanggakan.

Maka, trust me, terus majulah, kawan, bersama-Nya.
Niscaya karyamu berbuah puas dan syukur yang maksimal,
dan peran Tuhan ‘kan nampak gamblang, terang benderang,
tak beri peluang untuk kita mencuri kemuliaan.

Hakim-Hakim 7:2
Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: "Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.

Makassar, 24 Sept 13

Flash insight saat Doa Pagi ini; teringat pula sharing 2 majelisku yg memulai bisnis bermodal keberanian dan kepasrahan

Selasa, 24 September 2013

Tentang Mengutip

Pengkotbah di ibadah kedukaan malam ini bisa dibilang “berondongkan” kutipan. Bicara 28 menit, 8 penulis + 8 buku beliau sebut. Kalau bagian penutupnya yang berupa puisi, yang disebutnya ditulis seorang anak kecil, itu ikut kita hitung, brarti 9 penulis yang beliau kutip, sekali lagi: dalam kotbah 28 menit. Usai ibadah, seorang jemaat mengkritik, sekaligus “puji” saya: “Sombong ya pak Ketua Sinode itu, pamerin dirinya pinter, baca banyak buku. Saya senang, bapak hampir tidak pernah kutip buku.”

Kurespons dengan beritahu ibu ini apa yang sempat kupikirkan terkait rentetan kutipan itu: “Bisa jadi sebaliknya, ibu: Saya yang sombong, Bapak itu yang rendah hati. Kotbah saya bahan-bahannya juga dari banyak buku, tapi selama ini sepertinya saya memberi kesan semua yang saya ucapkan itu murni dari kepala saya sendiri.”  Entah apa yang ada di kepala ibu itu, karena situasi mengharuskan kami hentikan percakapan.

Dear fellow preachers, kurasa kalian setuju, bahwa apapun pilihan kita, entah menyebut penulis dan buku yang kita kutip atau tidak, peluang dikritik jemaat sama besar, dan itu di luar kendali kita. Yang dalam kendali kita ya motivasi kita, jangan sampai kita mengutip atau tidak mengutip dengan tujuan “pamer” si aku dalam diri kita. Karena kita hanya pewarta, penyampai pesan saja. Ambisi utama kita hanyalah agar pesan tersampaikan sejelas-jelasnya dan rasa gentar maupun hormat syukur pendengar terarah pada Allah semaksimalnya. (Tapi 8 buku dalam 28 menit [rata-rata tiap 3 menit], kebanyakan kali, betul ga sih? J )

Makassar, 24 Sept’13

Ibadah penghiburan pejuang iman sekaligus donatur besar, Ketua Sinode dari Jakarta datang melayani.