Rekan Sepanggilan, Menulislah!

Pengunjung yang terhormat, para saksi Kristus & para pelayan Tuhan, ini adalah blog mutiara DOA, SAAT TEDUH dan MEDITASI Kristen (kecuali sisipan-sisipan khususnya). Sebuah Kedai Doa, Warung SaTe, atau Kantin Yoga, terserah Anda menyebutnya. Kalo saya, ini Cafe Shalom:-) Lebih dari itu, blog ini adalah ajakan untuk menulis. Tulislah apa saja, selembar sehari, di diary atau jurnal pribadi. Don't worry, bahan-bahannya akan Tuhan kirim tiap hari, lewat berbagai macam situasi, Anda hanya tinggal mencatatnya dengan setia & sepenuh hati. Apapun genre-nya, semua bentuk tulisan itu bagus. Semua memastikan agar kita tak mudah lupa berkat dan pesan-Nya untuk jangka waktu sangat lama. Dan sudah barang tentu, tulisan Anda bisa jadi berkat buat sesama, asupan sehat bagi keluarga besar gereja-Nya. Selamat mencoba. Mulailah hari ini!

Minggu, 08 Januari 2017

Buka Tutup Hari

Dear Lord,
Help me to feed my family
 Help me to live out my teology
  Help me to be healty
   Help me to run my ministry
Above all,
 Help me to embody Your kingdom,
  to demonstrate Your truth, justice and shalom

Yes Lord, please help me today.
Amen.
Mikha 6:8
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Grand Cemara Hotel, JKT
11 Okt 2010




Dear Lord Jesus,
I bring my gratitudes
     as well as all my worries,
     anxieties and fears to YOU;
  today’s achievements
     as well as unfinished works and failures

I entrust myself to YOU tonite:
   For YOU’re GOD who bless while I am sleeping
   The GOD who knows and cares,
   The GOD who will grant me a new day,
       a new opportunities and strength and wisdom
       to welcome whatever tomorrow will bring.
In Your arms and caress I lie down
my body and soul. 
     Amen

Mzm 127:2
Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

#Go_tobedwith.hope.org*
#nomatter_whathappened-today.com*


Makassar, 17 Okt ‘16

Sabtu, 31 Desember 2016

Selamat Bahagia; Versi siapa??

Selamat membuka lembaran pertama tahun 2017, kawan! Doaku di awal tahun ini adalah untuk kebahagiaan kita sekalian.
Benar, bahagia memang relatif. Tiap orang bisa punya kriterianya masing-masing, prioritas tolok ukurnya masing-masing. Maka ijinkan di forum ini kupilihkan kriterianya, tolok ukurnya yang kupikir bisa berlaku buat kita semua, karena sumbernya adalah dari alkitab, dari kotbah Yesus di Bukit dalam Injil Matius 5:3. "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”
Dalam konsep Yesus, dalam pandangan sorga, orang miskinlah yang disebut bahagia. Miskin rohani, terutama. Tapi miskin jasmani termasuk juga. Miskin di sini bukan kondisi zero atau Nol. Ini kondisi minus. Seperti itulah memang yang dimaksud Yesus lewat kata yunani ptokoi, miskin yang absolut. Kata bangkrut mungkin lebih tepat. Kata temanku, bangkrut itu ketika kita sudah jual semua aset kita, tetap saja kita masih punya hutang.
Kabar baiknya (semoga) adalah: setiap kita tak perlu berusaha penuhi kriteria itu. Kita semua memang sudah masuk kriteria itu. Secara rohani kita ini miskin, bangkrut, dililit hutang. Ya, itulah yang diingatkan Paulus kepada jemaat Roma: “Kita adalah orang yang berhutang.” berhutang pada Allah (Roma 8:12).
Mengapa berhutang? Karena setiap kita, tanpa kecuali, adalah orang berdosa. Sebaik atau sesuci apapun yang kita tampakkan di muka umum, namun kalau kita berani berdiam diri 1-2 menit saja di hadapan Allah, jujur menilai diri, kita pasti simpulkan yang sama: betapa berdosanya aku ini: pernah berbuat dosa dan masih berbuat dosa. Pernah miskin bahkan mungkin saat ini dalam kondisi makin bangkrut rohani. Betapa beruntungnya aku karena iman kepada Tuhan Yesus itu telah memungkinkanku menikmati anugrah pengampunan  dan meluputkanku dari hukuman dosa, maut itu, bahkan menjaminku kelak mengambil bagian dalam kemuliaan kekal bersamaNya. Aku orang yang berhutang, pada Allah!
Kawan, orang yang berhutang itu punya tanggung-jawab membayar hutangnya bukan? Umumnya, normalnya, rasa tanggung jawab membayar hutang itu akan sangat memenuhi pikirannya, akan sangat mempengaruhinya dalam menentukan keputusan dan tindakan selanjutnya, bahkan mengubah gaya hidupnya: tunda beli yang inilah, batalkan rencana yang itulah, jangan lagi lakukan kebiasaan yang itulah, dll. Semua dalam rangka berhemat untuk memastikan bayar cicilan lancar. Maka sudah seharusnya donk kalau di tahun yang baru inipun pikiran kita, segala rencana dan keputusan kita, gaya hidup kita harus kita arahkan untuk membayar, mencicil, membalas kasih Tuhan Yesus!“
Untungnya, kita bukan berhutang pada rentenir jahat, melainkan pada Allah yang penuh kasih & rahmat. Sehingga kita membayar hutang dosa kita tidak dengan terpaksa atau hanya karena kewajiban, melainkan dengan kerinduan membalas kasih dan pengurbanan Tuhan.
Yang perlu senantiasa kita waspadai dan hindari adalah pikiran dan sikap tidak tahu diri atau sikap sombong yang tidak lagi merasa punya hutang. Bersyukur Paulus sudah ingatkan aku, dan aku senang bisa mem forward-nya pada kawan semua: Setiap kita, adalah orang yang berhutang pada Allah. Sadar kondisi bangkrut juga bikin kita sadar kita tak punya modal untuk mengasihi dan membahagiakan keluarga kita, tak punya energi berbuat kebajikan dalam komunitas kita apalagi dalam misi Allah. Dan itu bikin kita andalkan Tuhan, minta modal dari Tuhan dan bergantung pada Allah sepenuhnya.
So, tetap ingin bahagia di tahun baru? Bahagia versi siapa? Versi Kotbah di Bukit donk, versi sorga donk. Makanya, stay aware, jaga ketahu-dirian, kesadaran sebagai orang yang miskin, yang bangkrut, kawan. Stuju? Jika setuju, ijinkan aku berdoa bagi kita semua: "Tuhan, di tahun 2017 ini, berbahagialah aku dan setiap kawan pembaca blog ini, khususnya yang masih tahu diri, merasa miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah.” Amin. Selamat Tahun Baru, kawan!!


Celebes, pkl 00.01 WITA
1 Januari 2017

Di tengah hujan kembang api dan petasan yang meledak-ledak tiada henti di langit Makassar. Sebuah cara merayakan yang sangat mahal.

Ensiklopedia Kasih dan Pengorbanan

Selamat jelang tutup tahun 2016, kawan. Ada tayangan wajib di TV, di forum-forum diskusi, yakni Ensiklopedia akhir tahun; ensiklopedia ekonomilah, politiklah, kriminalitaslah atau ensiklopedia bencana-bencana nasional sepanjang tahunlah, dll. Semua disorot lagi secara sekilas namun menyeluruh, disertai harapan segala sesuatunya bisa lebih baik di tahun depan.
Di jam-jam terakhir ini, ijinkan aku mengajakmu bikin ensiklopedia hidup pribadi kita, kawan: mau kilas balik kondisi keuangan kita, suka duka dalam pekerjaan kita, studi kita atau moment-moment penting dalam keluarga kita. Kalau masih ada waktu, sempatkan kilas balik yang satu ini, yang kusebut ensiklopedia kasih & pengorbanan.
Mari simak pengalaman 3 orang ini: 
Pertama, seorang ibu, jemaat gerejaku, baru saja melahirkan anak pertama yang beratnya 3,5kg. Ia bercerita dengan penuh emosi: "Aduh pak, sakitnya bukan main. Saya seperti taruhan nyawa. Saya jadi tersadar lagi, betapa besarnya kasih dan pengorbanan mama. Sekarang, saya jadi pingin pulang kampung, ketemu mama, pingin memeluknya, pingin sampaikan trima kasih dan hormat sebesar-besarnya pada mama."
Kedua, seorang wanita muda di Inggris, entah siapa namanya. Beberapa tahun lalu surat kabar di sana ramai memberitakan kisahnya. Dia memenangkan perlombaan berhadiah besar: hadiahnya 3 minggu keliling dunia menikmati hotel-hotel terbaik serta fasilitas mewah lainnya. Wanita ini ternyata tidak memanfaatkan hadiahnya, karena harus menjaga seorang teman baiknya yang sedang opnam di RS dan akan menghadapi operasi. Wartawan berebut mewawancarainya, karena tidak puas dengan alasan tersebut: "Nona, pasti ada orang lain yang bisa menjaga teman Anda, dan pasti teman Anda itu akan sangat mengerti, karena ini adalah kesempatan sekali seumur hidup." Beberapa saat wanita ini menolak menanggapi, namun karena tak tahan terus dikejar-kejar wartawan akhirnya ia buka suara. "Baik, kalian benar-benar mau tahu alasanku? Itu karena apa yang telah temanku itu lakukan padaku 3 tahun lalu. Waktu itu aku terlibat narkoba, aku diusir keluargaku, dipecat dari tempat kerjaku. Dialah satu-satunya orang yang merawatku. Dia menampungku di rumahnya. Tiap malam dia bicara denganku, mendorongku untuk melawan kecanduanku. Seringkali aku muntah-muntah tengah malam, dia bangun dan membersihkan muntahanku, mengganti bajuku, membawaku ke dokter, bicara dengan dokter untuk memastikan proses pemulihanku berjalan baik. Ia mendampingiku dalam sidang-sidang di pengadilan kasus narkobaku. Ia bahkan mencarikanku pekerjaan. Dia..dia sangat mengasihiku, ...dia telah banyak berkorban untukku. Dan sekarang ia dia tak berdaya dan akan dioperasi. Nah, apa aku punya pilihan lain?! Menemaninya di RS itu hal kecil yang bisa kulakukan untuknya, tak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan untukku."
Ketiga, Paulus. Ya, si pembuat-penjual tenda dan rasulnya Yesus Kristus di alkitab itu. Ia menulis: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, ... Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Kor 5:14-15). Ayat-ayat ini adalah bagian dari penjelasan Paulus atas isu yang berkembang dalam jemaat Korintus tentang mengapa Paulus sebagai rasul kok hidupnya penuh penderitaan, bahkan nampak sengaja melayani dengan semangat pengorbanan: misal, menolak haknya mendapat tunjangan hidup dari jemaat, lebih memilih bekerja bikin & jual tenda untuk menafkahi dirinya sendiri dan membeayai perjalanan misinya; tidak seperti pengajar-pengajar hikmat lainnya yang nampak sukses (= terkenal, makmur, pendengarnya banyak), karena suka mencari keuntungan dan kemuliaan diri. Nah, di ayat-ayat inilah Paulus menuliskan penjelasannya: "Sebab kasih Kristus[lah] yang menguasai kami,.."
Kawan, ada benang merah dalam pengalaman 3 orang ini: mereka sama-sama tersentuh dan diubahkan oleh kasih dan pengorbanan seseorang dalam hidup mereka. 3 orang ini mengalami apa yang disebut logika kasih & pengorbanan”. Begini prinsipnya: Kasih dan pengorbanan yang dirasakan seseorang itu mengubahkan, membuat orang itu tak berdaya selain membalasnya dengan semangat kasih dan pengorbanan yang sama.
Jadi, kawan, mengingat dan menyadari kasih dan pengorbanan seseorang (teman, orang tua, apalagi mengingat dan menyadari lagi kasih & pengorbanan Kristus), itu mengubah hidup kita, akan membuat kita merasa tak punya pilihan lain, selain membalasnya dengan sikap atau semangat kasih dan pengorbanan yang sama, entah dalam pekerjaan, pelayanan atau dalam berelasi.
So, yuk kita evaluasi hidup kita jelang tutup tahun tengah malam nanti: dengan semangat apa kita menjalani hidup kita selama ini? Ini moment yang tepat kita menghitung berkat Tuhan di seluruh aspek hidup kita: yakni mengingat kasih dan pengorbanan orang-orang dalam hidup kita, terutama mengingat kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kita dari hukuman kekal yang seharusnya kita tanggung sebagai upah dosa kita. Biarlah ingatan dan kesadaran akan kasih dan pengurbanan banyak pihak itu menjadi motivasi sekaligus energi kita untuk [tidak bisa tidak, merasa tidak punya pilihan lain selain] beribadah, melayani, membangun relasi, studi dan bekerja dengan semangat kasih dan pengorbanan yang sama.
Dalam prakteknya, logika kasih apalagi pengorbanan ini sulit diterapkan. Dunia sudah ajari kita sejak kecil hidup dengan semangat persaingan, permusuhan dan logika untung rugi. Tapi mengapa harus tetap kita lakukan? Karena, walau sering bisa terasa tidak “masuk akal,” sikap-sikap seperti ini selalu “masuk hati,” punya potensi mengubahkan: mengubah orang, mengubah komunitas keluarga kita, gereja kita, kantor kita, bahkan masyarakat kita. Terutama, karena memang inilah gaya hidup manusia baru dalam dunia baru pasca kebangkitan Yesus, sangat berpotensi memuliakan Tuhan di tengah dunia yang merindukan teladan, dunia yang diam-diam terus mengawasi anak-anak Tuhan!

Kota Anging Mammiri,

31 Desember 2016