Rekan Sepanggilan, Menulislah!

Pengunjung yang terhormat, para saksi Kristus & para pelayan Tuhan, ini adalah blog mutiara DOA, SAAT TEDUH dan MEDITASI Kristen (kecuali sisipan-sisipan khususnya). Sebuah Kedai Doa, Warung SaTe, atau Kantin Yoga, terserah Anda menyebutnya. Kalo saya, ini Cafe Shalom:-) Lebih dari itu, blog ini adalah ajakan untuk menulis. Tulislah apa saja, selembar sehari, di diary atau jurnal pribadi. Don't worry, bahan-bahannya akan Tuhan kirim tiap hari, lewat berbagai macam situasi, Anda hanya tinggal mencatatnya dengan setia & sepenuh hati. Apapun genre-nya, semua bentuk tulisan itu bagus. Semua memastikan agar kita tak mudah lupa berkat dan pesan-Nya untuk jangka waktu sangat lama. Dan sudah barang tentu, tulisan Anda bisa jadi berkat buat sesama, asupan sehat bagi keluarga besar gereja-Nya. Selamat mencoba. Mulailah hari ini!

Jumat, 12 Juli 2013

Mandela Legacy

       Nelson Mandela nama populernya. Setelah berbulan TV dan koran memberitakan kondisi kritisnya di RS, subuh tadi pemimpin Afrika Selatan 3 dekade ini akhirnya berpulang jua (94th). Sudah pasti negara Afrika Selatan bersedih, walau seluruh rakyatnya sudah mempersiapkan hati untuk kehilangan sosok yang mereka anggap pahlawan ini. Barak Obama, menyebutnya sebagai pahlawan dunia. Warisannya tidak akan dilupakan dunia. Apa yang diwariskan bapak ini? Salah satunya adalah: teladan pengampunan. Berkat teladan pengampunan bapak ini, dunia modern kita hari ini punya alasan dan punya bukti untuk percaya betapa dahsyatnya kekuatan pengampunan itu.
Ijinkan saya merangkum kisah hidupnya. Beliau lahir dan besar di saat negaranya diperintah oleh kaum minoritas kulit putih. Rezim kulit putih ini menerapkan politik apartheid, yakni kebijakan politik yang menindas hak-hak asasi warga kulit hitam yang jumlahnya mayoritas itu. Polisi atau warga kulit putih bisa seenaknya menganiaya, menyiksa bahkan membunuh warga kulit hitam. Mandela muda giat memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam. Akibatnya, beliau kerap dijebloskan dalam penjara dan menjalani kerja paksa di sana, total selama 27th!
Th 94 angin politik berubah. PBB berhasil menekan pemerintah kulit putih di Afrika Selatan untuk menegakkan HAM dan memulihkan hak-hak warga kulit hitam. Mandelapun akhirnya bebas, dan segera didaulat oleh rakyat sebagai pemimpin politik mereka. Situasi politik Afrika Selatan saat itu memanas, warga kulit hitam yang puluhan tahun ditindas dengan kejam itu sudah siap melampiaskan balas dendam terhadap warga kulit putih, bahkan aksi penjarahan sudah mulai terjadi. Apa yang dilakukan bapak ini?
Mandela justru mengajak Presiden FW De Klerk yang memenjarakannya selama 27th itu untuk bersama meredakan situasi bangsa yang di ambang kerusuhan. Maka dua pemimpin ini, dengan disaksikan seluruh rakyat dan dunia, menanda-tangani perjanjian damai.  Mandela menghimbau presiden kulit putih itu mengadakan Pemilu secara demokratis, dan Mandela menjanjikan perlindungan terhadap warga kulit putih yang kini tidak sekuat dulu posisinya. Di depan rakyat, Mandela menyatakan bahwa ia mengampuni orang yang memenjarakannya selama 27th itu, dan kepada rakyat kulit hitam ia menyerukan untuk mengampuni seluruh warga kulit putih yang menindas mereka di masa lalu.
Tentu ini bukan hal yang mudah, banyak yang menolak bahkan jadi membenci Mandela karena mengampuni warga kulit putih, namun akhirnya Mandela berhasil meyakinkan rakyat kulit hitam untuk  mengawali era kebebasan mereka bukan dengan aksi balas dendam, melainkan dengan pengampunan. Pesan yang diserukan Mandela kepada rakyat kulit hitam, dan juga kepada dunia, adalah bahwa pengampunan, forgiveness, itu jauh lebih luhur dan lebih kuat dari kebencian dan balas dendam.
Singkat cerita, setahun kemudian Mandela terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama negara itu. Dunia juga menganugerahi Mandela dengan hadiah Nobel Perdamaian, karena menghindarkan negaranya dari pertumpahan darah. Hari ini Afrika Selatan menjadi bangsa yang maju, warga kulit hitam dan putih hidup rukun dan damai. Dunia terinspirasi, dunia kembali percaya, bahwa pengampunan itu besar kekuatannya, dahsyat  dampak positifnya.
Salah satu kalimat yang menyentuh hati rakyat kulit hitam sehingga mereka mau mengampuni adalah ucapan Mandela yang satu ini: “Saat saya melangkah keluar melalui pintu penjara menuju kebebasan saya, saya tahu bahwa jika saya tidak meninggalkan semua kemarahan, kebencian dan kepahitan itu di penjara ini, maka sama saja saya masih tetap dalam penjara!” Mandela mengingatkan warga kulit hitam, bahwa jika mereka memulai era baru, era kebebasan mereka itu dengan balas dendam, maka hati-jiwa mereka tidak akan benar-benar merasa bebas, melainkan akan terus terpenjara, tidak akan mengalami bahagia.
Kalimat Mandela di atas sesungguhnya bukan produk gagasan abad ini. 2000-an tahun lalu Tuhan Yesus sudah menyerukan kebenaran yang sama. Dalam perumpamaan di Matius 18:21-35 kita membaca seorang hamba yang jahat yang diampuni Raja namun batal bebas alias kembali masuk penjara karena sikapnya yang tidak mau mengampuni temannya yang berhutang sedikit kepadanya. Inti pesan Yesus di situ bukanlah bahwa kita itu harus menelan semua kekecewaan dan kemarahan kita, lalu mengampuni dan melupakan seolah-olah tidak terjadi apa-apa sama sekali.
Pesan perumpamaan Yesus itu adalah : bahwa kita tidak boleh berhenti menjadikan pengampunan dan rekonsiliasi itu sebagai sasaran kita tiap kali terjadi konflik. Jika pertengkaran atau konflik harus terjadi, kita harus menghadapinya dengan semangat pengampunan, bukan balas dendam.
Ayat terakhir dalam perumpamaan itu amat penting digaris-bawahi:(ay 35) “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu (maksudnya tidak mengampuni), apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." Allah tidak akan mengampuni?? Tunggu dulu, ...Allah di sorga tidak akan mengampuni?? Benarkah??? Betulkah Sang Maha Pengampun itu tidak bisa mengampuni manusia yang tidak mengampuni sesamanya? Saya yakin jawabannya: Ia bisa! Ia Allah, pasti bisa. Tapi sikap tidak pengampun itulah yang membuat seseorang tidak mampu menerima pengampunan Allah. 
Ilustrasinya seperti ini: Pengampunan itu seperti udara dalam paru-paru kita. Kita hanya akan bisa menghirup udara yang baru jika kita terlebih dulu menghembus kan/ mengeluarkan udara itu keluar dari paru-paru kita. Kalau kita bersikeras tidak mau menghembuskan udara yang memenuhi paru-paru kita, yakni bersikeras tidak mau memberikan pengampunan, maka kita juga tak akan bisa menghirup udara yang baru/ pengampunan yang baru yang kita butuhkan. Secara rohani (dan mental), kita bisa mati lemas, kawan. (Seorang konselor menggambarkan: orang yang tidak mau mengampuni itu seperti orang yang minum racun tapi mengharapkan orang lain yang mati).
Begitu jelas, begitu keras. Tapi ini pelajaran yang sulit, kawan. Sulit diterima akal, sulit terlebih sulit lagi dilakukan, baik buat orang yahudi jaman Yesus, sulit juga buat kita hari ini. Waktu itu Yesus hidup di tengah masyarakat yang menghargai balas dendam sebagai tanggung jawab moral dan menganggap pemberian maaf sebagai tanda kelemahan. Perumpamaan yang diceritakan Yesus itu pasti mengagetkan banyak orang. Hari inipun kita hidup di tengah dunia, di tengah masyarakat yang fasih bahasa kebencian dan balas dendam (kemarin saya baca di Kompas.com, ada berita tentang seorang pemuda di Inggris yang mati ditikam 17x setelah menggoda gadis arab).
Maka, ingin kuingatkan, kawan, bahwa panggilan kita adalah menjadi seperti Yesus bagi Israel, yakni mewartakan pengampunan Allah kepada generasi kita hari ini, khususnya pengampunan yang dianugrahkan-Nya melalui Yesus, Mesias yang tersalib itu. Seiring panggilan tersebut, kita juga dipanggil untuk memancarkan citra Allah sejati, yakni bertumbuh sebagai pribadi yang limpah memberi maaf. Tentu saja, sama seperti yang dialami Yesus, panggilan ganda ini beresiko menuai penilaian orang banyak atau pihak-pihak tertentu bahwa kita lemah, bahwa kita menghina keadilan Allah.
Kisah nyata berikut inipun buah dari teladan Nelson Mandela. Sebelum membacanya, ini ajakan saya: dibanding memuji-muji Mandela, lebih mendesak adalah menghidupi warisannya, yakni doakan, peragakan dan perjuangkan pengampunan di konflik apapun yang kita jumpa, di konflik antar individu terlebih level komunal, bahkan nasional bangsa kita! Setuju, kawan?? Yang setuju silahkan lanjut baca kisah nyata ini...

Seorang wanita tua berkulit hitam sedang berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Di depannya, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, orang yang terbukti membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu. Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”
Mr. Van den Broek akhirnya ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya. Hakim bertanya, “Jadi, apa yang Ibu inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Ibu?”
Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan abunya untuk menguburkannya secara layak.” Lalu ia melanjutkan: “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”
“Dan, akhirnya,” ia berkata, “ yang ketiga, saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya dibantu berjalan ke depan hingga saya dapat memeluk Mr. Van den Broek dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.”
Ketika petugas pengadilan membawa wanita tua itu ke depan, Mr. Van den Broek sangat terharu dengan apa yang didengarnya, sampai-sampai ia pingsan. Sejenak kemudian, mereka yang berada di gedung pengadilan – teman, keluarga, dan tetangga – korban penindasan dan ketidakadilan serupa – berdiri dan bernyanyi "Amazing grace, how sweet the sound that saved a wretch like me. I once was lost, but now I'm found. 'Twas blind, but now I see.“

Matius 18:21-22
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Matius 6:14-15
Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."


Palopo, 12 Juli 2013

Kamis, 28 Maret 2013

Kamis Putih = Passion Five

Melahirkan kembali, Mencipta ulang ...Semesta!
Yoh 16:16-22

Kunjungi rumah jemaat minggu ini jumpakanku dengan tiga keluarga bahagia atas kelahiran anak atau cucu mereka. Para ibu yang baru melahirkan itu nampak begitu bahagia. Padahal melahirkan itu menakutkan (jika tak boleh dibilang mengerikan). Sakit sekali katanya. Ada kontraksi atau kejang-kejangnya, ada rasa sesak-sulit bernafas, ada perasaan tidak karuan, campur-aduk, dll, yang kita para suami atau para pria hanya bisa menonton dengan kagum campur cemas. (waktu putri pertamaku lahir, aku keluar kamar bersalin karena tak tega lihat istri kesakitan berjuang mengeluarkan Charissa Hui dari perutnya).
Tapi uniknya, kebanyakan ibu hamil menantikan momen menyakitkan ini dengan semangat ’maju tak gentar’ atau ’terus maju meski gentar.’ Dengan penasaran mereka sering membayangkan seperti apa wajah bayinya saat lahir nanti, dan dengan takjub dan bangga mereka membayangkan seperti apa rasanya menghadirkan sebuah kehidupan baru ke dalam dunia ini, dalam wujud bayi mungil, melalui rahimnya.
Para ibu yang kubezuk itu jelas mengalami rasa sakit (baik yang melahirkan normal maupun lewat operasi cesar), namun seperti yang kulihat sendiri, rasa sakit itu sudah berganti suka-cita, kebahagiaan yang sepertinya sulit mereka lukiskan dengan kata-kata. Memang masih ada rasa sakit yang dialami selama masa pemulihan, namun yang pasti: kehidupan baru telah datang, membawa suka cita baru, tak hanya bagi sang ibu, tapi juga bagi banyak orang.
Nah, realitas pengalaman para ibu ini dalam perspektif kristiani seharusnya layak disebut tiap kali kita merayakan paskah. Karena tak hanya natal, paskahpun sejatinya bicara tentang kelahiran. Benarkah? Benar, kawan! Coba simak ucapan Yesus di Yoh 16:16-22. Khususnya di ay 21 “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.“
Kelahiran siapa yang dimaksud Yesus di sini? Jawabnya akan kutunjukkan nanti. Sekarang kuingatkan dulu, bahwa Alkitab kita itu penuh dengan peristiwa kelahiran. Coba aja baca silsilah-silsilah dalam kitab Bilangan. Itu kan isinya tentang si Anu memperanakkan Ani, si Ani melahirkan si Ano, dst. Atau kitab Kejadian. Teks aslinya terbagi dalam sepuluh bab yang semua bagian awalnya mengandung kisah kelahiran atau silsilah. Bisa dibilang, tiap nama yang disebut dalam kitab Kejadian selalu dikaitkan dengan kisah ’siapa melahirkan siapa.” Abraham melahirkan Ishak dan Yakub, Yakub melahirkan 12 orang yang kelak menurunkan 12 suku Israel, dst.
Jadi jelas terasa, bahwa kelahiran itu peristiwa penting bagi pembaca awal alkitab kita. Bahkan, saking pentingnya, sampai-sampai langit-bumi atau sorga-bumi itu disebut dilahirkan. Coba baca Kej 2:4. Kata ibrani untuk ”riwayat’ dalam ayat ini adalah toledot = “keturunan” atau ”kelahiran.” Kata ini erat kaitannya dengan kata yalad = memperanakkan, melahirkan. Dan orang yahudi sejak berabad lampau menganggap Yerusalem dan bait suci di dalamnya, sebagai ‘pusar’ dunia. Seperti tali pusar yang menghubungkan bayi dengan mamanya, mereka meyakini Yerusalemlah tempatnya agar dunia bisa  terhubung dengan sumber kehidupannya, yakni dengan sorga, dengan Allah (sejak Allah memilih bait suci yang dibangun raja Salomo itu sebagai tempat-Nya berdiam di tengah umat Israel [1Rj 9:3]).
Nah, kembali ke ucapan Yesus di ayat 21 tadi. Ayat ini ada dalam percakapan Yesus bersama para murid menjelang penyaliban-Nya. Yesus sedang menghibur mereka. Tapi Ia bicara tentang kelahiran siapa/apa? Tidak disebutkan secara ekplisit, maka kita perlu cermati konteksnya. Di ayat 16 Yesus menyebut kata “Tinggal sesaat saja..” (bahkan dalam 3 ayat berikutnya kata ini diulang sebanyak 7x!). Maka konteksnya jelas, ternyata Yesus sedang menyamakan peristiwa seorang ibu melahirkan tadi dengan sebuah peristiwa besar yang ‘tinggal sesaat lagi’ akan terjadi. Yesus berkata: “Tinggal sesaat lagi kamu tidak melihat Aku...dan kamu akan melihat Aku lagi.” Apa maksudnya? Peristiwa apa yang membuat mereka sesaat lagi tidak melihat Yesus, tapi sesaat lagi juga akan melihat Yesus kembali. Para murid bingung dengan kalimat Yesus ini.
Tapi kita sebagai pembaca alkitab saat ini tentu tidak (perlu) bingung. Karena jika kita baca peristiwa selanjutnya, yang terjadi adalah peristiwa salib. Maka, dengan kata lain, di sini Yesus sedang mau menyampaikan bahwa kematian-Nya dan kebangkitan-Nya itulah yang Ia samakan dengan proses seorang wanita melahirkan bayinya. Yesus akan diambil dari tengah mereka, ditangkap-disalib, mereka akan berduka. Dan di ay 20-22 ini seolah Yesus memberi peringatan: “Sebentar lagi kalian akan merasakan pengalaman menyakitkan seperti yang dialami ibu-ibu yang melahirkan.”
Peristiwa-peristiwa yang akan mereka saksikan dan alami dalam hitungan jam ini, mulai di Getsemani, di pengadilan Kayafas, Pilatus, lalu di sepanjang via dolorosa hingga ke Golgota itu, semuanya akan sangat menyakitkan bagi para murid (sudah pasti bagi Yesus sendiri!). Selama 3 hari mereka tidak akan bisa melihat Yesus lagi. Tapi mereka akan melihat Yesus lagi, karena Yesus  bangkit, sehingga dukacita mereka akan berganti dengan suka-cita.
Nah, kalau digabungkan dengan pertanyaan kita di awal, maka pertanyaannya sekarang: apa yang terlahir jika Yesus menyamakan kematian dan kebangkitanNya itu seperti perempuan yang melahirkan?  Dunia baru, kawan. (Atau lebih tepatnya, dunia ciptaan lama yang selesai tercipta di Kejadian 2:4 dan yang jatuh-cemar-rusak karena dosa di Kejadian 3 itu, akan dilahirkan kembali, dicipta ulang). Itu sebab Yesus berkata di ay 20 “kamu akan menangis, meratap, namun dunia akan bergembira (karena sudah terlahir kembali). Ini pesan yang ingin Yesus maupun Yohanes sampaikan pada kita. Inilah kabar baik injil yang akbar itu, yang tidak hanya tentang keselamatan individu-invidu manusia, melainkan juga tentang keselamatan kosmis, seluruh ciptaan.
Metafora kelahiran dunia baru ini hanya salah satu dari banyak cara alkitab memberitahu kita tentang misi besar Allah terhadap ciptaan-Nya yang telah dibelenggu kuasa dosa (istilah lainnya yang sudah populer adalah: memulihkan, menebus, menghakimi, menyelamatkan, membawa pulang, mendamaikan seluruh ciptaan). Tak heran rasul Pauluspun menggunakan metafora yang sama ketika mencoba menggambarkan tentang dunia yang menderita di bawah kuasa dosa dalam kitab Rom 8:22 “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.”
Dalam surat Kolose 1: 23 Paulus juga menulis: “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah (perfect tense !) dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Injil apa yang Paulus sebut telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit ini? (sampai hari inipun masih banyak daerah yang belum terjamah misi kristen, belum mendengar berita injil!). Maka injil yang Paulus maksud di sini tentulah jauh lebih besar dari kabar baik tentang individu manusia yang percaya Yesus akan masuk sorga setelah mati. Injil ini selaras dengan yang dimaksud Yesus di ay 20 tadi, yang cakupannya tidak sebatas bersifat personal, melainkan juga global. 
Bagi Paulus, kematian dan kebangkitan Yesus di kayu salib adalah karya Mesias yang mengalahkan sekali dan selamanya si iblis dan segala manifestasi kuasa jahatnya. Dengan demikian, injil tentang Kristus yang tersalib dan bangkit adalah pengharapan sejati, garansi bagi pemulihan seluruh ciptaan. Seperti RS mengeluarkan surat resmi pernyataan kelahiran anakku Hui (yang dikuatkan oleh lembar negara yang dikeluarkan catatan sipil), demikian di paskah perdana itu sorga mengeluarkan pernyataan resmi: “Selamat, semesta baru telah lahir!” “yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang!”
Yesus sendiri jelas ingin para muridNya memahami realitas akbar ini di balik peristiwa penyaliban-Nya. Sedih sesaat wajar, tapi para murid seharusnya segera bersukacita kembali setelah kebangkitan terjadi:
Yohanes 16:20-21 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.
Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

Maka apa respons yang pantas kita berikan tiap paskah tiba, kawan? Usulku, untuk paskah perdana 2000an tahun lalu itu, kita serukan: “Selamat datang “bayi dunia baru,” “bayi Kerajaan Allah di bumi.” Tapi kini  sudah dua ribu tahun lebih paskah perdana telah berlalu. Kita wajib berduka dan bertobat jika di generasi kita ini realitas dunia baru, nilai-nilai Kerajaan Allah itu kondisinya masih seperti bayi, di mana kebenaran, keadilan dan shalom Allah masih dianggap remeh, masih merangkak pelan, belum tegak berjalan, masih seperti bahasa cedal seorang balita, belum jelas diartikulasikan. Maka tiap kali masa raya paskah tiba, menurutku tak ada cara lain yang lebih tepat menyambutnya selain dengan mengingat kembali panggilan kita sebagai gereja, yakni terus merawat, membesarkan dunia baru, kerajaan Allah itu.
Sebagaimana Yesus ingin para murid melanjutkan tugas membesarkan bayi dunia baru-kerajaan Allah yang telah Ia lahirkan, hari ini kitalah yang diberi-Nya peran sebagai ibu yang punya naluri merawat bayinya sendiri, yang tidak pernah merasa terpaksa, melainkan selalu tekun dan penuh kasih serta dengan segala daya upaya merawat dan membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.
 So, biarlah paskah ingatkan kita, untuk besarkan KerajaanNya, sebarkan nilai-nilai sorga, wujudkan dunia baruNya, di manapun kita berada, melalui talenta apapun yang kita punya. Ini tanggung-jawab kita, kawan. Please, jangan oper tanggung jawab mulia ini pada para baby-sitter J.

Selamat jelang paskah, kawan!

Palopo, 14 Maret 2013

Selasa, 26 Maret 2013

Selasa Suci = Passion Three

Menentang Rohaniwan dan Negarawan Korup
Markus 11:25-13:37

Selasa Suci ini jadual Yesus padat. 3 pasal Markus gunakan untuk mengisahkannya. Dua pertiganya berisi konflik Yesus dengan penguasa Bait Suci dan kaki tangan mereka, sepertiganya (pasal 13) berisi peringatan akan kehancuran kota Yerusalem dan bait sucinya, serta tentang kedatangan Anak Manusia dalam waktu dekat. Setelah kemarin beraksi menjungkir-balikkan meja dan mengusir para pedagang, hari ini Yesus dan para murid kembali masuk bait Suci, di bagian pelatarannya yang luas, di antara pilar-pilar serambinya yang megah. Tempat itu biasa dipakai untuk mengajar, namun di masa paskah seperti ini, lokasi ini penuh peziarah yahudi. Kupilih satu adegan saja untuk mewakili passion Yesus yang nampak di hari ketiga minggu paskah yahudi ini, dari pasal 12:1-12.

 Setelah sebelumnya membuat tak berkutik para imam kepala yang bertanya: "Emangnya kamu siapa, brani-braninya jungkir-balikkan meja?! (11:27-33), sekarang Ia garis-bawahi sumber otoritas aksiNya, dengan berumpama, sebuah cerita, tentang kebun anggur, mengutip puisi Yesaya (5:1-7). Ini berisi kidung cinta tentang perlakuan Allah yang istimewa namun berujung kecewa, tentang para pemimpin yang gagal membuat Israel (baik tanah dan orang-orangnya) yang adalah kebun anggur Allah, menghasilkan buah anggur yang baik. Endingnya adalah penghukuman, kebun anggur itu akan dibiarkan tak terawat, terinjak-injak dan rusak. Sebuah akhir pahit bila pemimpin umat Allah terus menolak (yang mengakibatkan seluruh bangsa juga menolak) tujuan Allah memanggil mereka.

Allah masih pemilik kebun anggur itu, dan Israel zaman Yesus masih kebun anggurNya, masih dituntut hasilkan buah-buah keadilan di dalam kehidupan nasional mereka, serta menyatakan anugrah Allah kepada bangsa-bangsa di sekitarnya. Maka, melanjutkan tugas para nabi, meski Ia lebih dari nabi, Yesus sampaikan peringatan terakhir untuk mereka: jika mereka (terutama para penguasa bait suci itu) terus serakah menyimpan anugrah Allah itu untuk diri sendiri, dan terus cenderung menolak bangsa-bangsa lain dengan sikap ketidak-adilan bahkan kekerasan, maka penghukuman Allah atas mereka (dan atas Israel) akan segera tiba.

Yesus memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan apa yang telah dan akan dialamiNya di Yerusalem ini. Pesannya jelas bagi pendengarNya: Israel, diwakili perilaku para pemimpin rohaninya, diwakili berbagai praktek korup, ketidak-adilan dan ketidak-benaran di bait suci ini, di dalam kota suci ini, telah memberontak melawan Allah. Israel, diwakili imam besar bait suci, telah menolak bahkan dikisahkan membunuh utusan Allah terakhir, Anak Pemilik kebun anggur itu sendiri.

Perumpamaan ini, serta pesan penghukuman-Nya, sudah tentu menjengkelkan para imam dan imam besar yang menjabat saat itu. Merekalah yang secara langsung yang dimaksud para penggarap kebun anggur yang serakah dan jahat di sini, yang menginginkan panen untuk diri mereka sendiri (ay 12). Karena berarti penghukuman Allah yang mereka harapkan tertimpa atas bangsa-bangsa kafir itu justru menurut perumpamaan ini akan segera menimpa kelompok mereka sendiri.  Maka tak cuma sakit hati, mereka gelap mata dan hati, lalu sepakat bahwa Yesus harus segera dihabisi, dengan dalil penistaan agama maupun fitnah makar terhadap kaisar Roma.

Apa perenungan paskahnya, kawan? Ini: hari ini Allah tetap pemilik kebun anggur itu, dan dunia kita hari ini, termasuk bangsa kita ini masih taman kepunyaanNya, yang keindahannya rusak cemar dosa, yang akan dipulihkanNya. Israel telah menolak dan membuang Yesus, maka Allah memulai kebun yang baru, Yesus pokok anggurnya, gereja adalah ranting-rantingnya. Bait suci telah menjadi sarang penyamun, maka Allah membangun Bait Suci yang baru, yakni gereja, Yesus Batu Penjurunya. Maka perumpamaan inipun secara langsung adalah tentang kita, gereja hari ini, kaum imamat rajani, kawan (ehm, terutama tentang para pemimpin gereja/lembaga pelayanan kristen). Secara luas, ini juga peringatan terhadap para pemimpin bangsa kita.

Apa yang dilakukan para pemimpin rohani dan pemimpin bangsa kita hari ini? Apakah mereka sedang bersikap seperti para penggarap yang baik atau yang serakah dan jahat? Sikap pemimpin gereja akan sangat menentukan apakah gereja hari ini rindu bermisi dan berani nyaringkan suara kenabiannya. Mari kita doakan para pemimpin gereja kita, para pemimpin lembaga pelayanan kristen, karena perlakuan yang dialami Yesus di Yerusalem itu, yakni penolakan dan kekerasan, sangat mungkin akan mereka alami, ketika mereka berani pergi dan menyampaikan suara kenabian dan injil kerajaan Allah ke pusat-pusat kekuasaan dan ketidak-adilan, ke tempat-tempat atau situasi-situasi di mana orang menyalahgunakan agama (termasuk kekristenan sendiri!) dan politik sebagai sarana memastikan keamanan dan kenyamanan internal pemimpin maupun jemaat sendiri, bukannya memancarkan terang Allah kepada dunia ini.

Semoga paskah tahun ini kembali limpahi gereja dengan energi Kalvari, memurnikan motivasi dan menyemangati para pemimpinnya serta memperlengkapi umat gereja untuk menghadirkan dirinya sebagai bukti, bahwa kebun anggur Allah yang baru, bahwa Bait Allah yang baru, sudah hadir dan memberi buah kebenaran dan keadilan di bumi nusantara tercinta ini.

Selamat jelang paskah, kawan!

Yesaya 5:7
Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran.

Yohanes 15:5
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.


Palopo, 26 Maret 2013
Sebaiknya baca ini dulu: http://www.morningtraveler.blogspot.com/2013/03/merindu-paskah-yang-holistik.html